Skip to main content

Komisi A Surabaya Soroti Polemik Kawasan Konservasi Pamurbaya

SURABAYA (Mediabidik) – Keberadaan 99 bangunan rumah yang berdiri di kawasan konservasi Pantai Timur Surabaya (Pamurbaya) kelurahan Gunung Anyar Tambak kecmatan Gunung Anyar Surabaya menjadi perhatian Komisi A yang membidangi Hukum dan Pemerintahan. Penelusuran dilakukan demi kebaikan warga yang sudah mendirikan bangunan di kawasan lindung tersebut.
Untuk itu, Komisi A DPRD Surabaya Rabu (8/3) kemarin menggelar hearing dengan pihak terkait untuk mengurai ikhwal berdirinya bangunan rumah di kawasan konservasi. Keberadaan 99 rumah itu berada di Wisma Tirto Agung, Kelurahan Gunung Anyar Tambak, Kecamatan Gunung Anyar Surabaya.
Padahal, penetapan Pamurbaya sebagai kawasan lindung sudah diputuskan dengan keluarnya Masterplan Kota Surabaya tahun 2000. Rencana induk penataan wilayah tahun 2000 itu kemudian diperbarui di Perda No 3 tahun 2007, dan Perda 12 Tahun 2014 tentang Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) Kota Surabaya.
"Kita telusuri mulai proses bagaimana jual beli dengan pengembang. Makanya kita juga datangkan mantan lurah saat transaksi lahan di Wisma Tirto Agung," kata Wakil Ketua Komisi A DPRD Surabaya Adi Sutarwijono.
Dari keterangan warga yang dikumpulkan, jelas Awi, sapaan Adi Sutarwijono, dewan mengantongi dua surat berbeda terkait transaksi tersebut. Yakni surat keterangan dari pengembang yang menyatakan lahan itu bebas dan diperbolehkan untuk dibangun permukiman. Surat kedua berupa dokumen dari kelurahan yang tidak menyertakan surat keterangan izin dibolehkannya pembangunan di lokasi tersebut.
"Intinya proses yang kami lakukan adalah untuk kejelasan nasib warga. Bukan hanya masalah siapa yang salah, apakah warga atau pengembang. Kami juga mencarikan solusi untuk kebaikan warga di sana," ucap Awi.
Oleh karena itu, pihaknya sepakat jika pemkot sekarang menggandeng penegak hukum untuk mendapatkan saran solusi. Khususnya terkait kemungkinan apakah pemkot bisa mengganti rugi bangunan yang sudah telanjur terbangun.
"Sebab kalau berdasarkan aturan, lahan konservasi itu bisa dibeli oleh pemerintah asalkan ada dana yang cukup," jelas mantan wartawan ini.
Sementara itu, Pemkot Surabaya segera membahas masalah ganti rugi pembebasan 99 persil dan bangunan di atasnya yang berdiri di kawasan lindung Pamurbaya.
Kepala Dinas Perumahan Rakyat, dan Kawasan Permukiman, Cipta Karya dan Tata ruang, Erick Cahyadi mengatakan, pemkot akan memastikan apakah ganti rugi tersebut bisa diberikan kepada pemilik bangunan. Meski menurutnya, sesuai UU Tata Ruang ganti rugi hanya bisa diberikan terhadap tanah saja. "Makanya nanti kita minta arahan hukum dari kejaksaan, kepolisian dan tenaga ahli," tuturnya
Eri menyebutkan, sebenarnya warga yang memiliki bangunan di area konservasi sadar bahwa mereka salah, karena peruntukannya tidak boleh untuk permukiman. Tapi, warga juga tidak murni bersalah, karena mereka tak mengetahui lahan itu masuk kawasan konservasi, berikut batas-batasnya.
"Lagi pula, kabarnya ada surat dari lurah yang membolehkan untuk permukiman," ujar Eri.(pan).

Comments

Popular posts from this blog

5 Tanaman Unik Mirip Alat Kelamin Manusia

Tentunya, setiap orang pernah mengalami fenomena psikologis yang mengibaratkan suatu benda terlihat seperti obyek lain. fenomena psikologis tersebut juga muncul di dunia tumbuh-tumbuhan. Dalam Wikipedia, arti dari pareidolia adalah fenomena psikologis yang mengikutsertakan stimulus samar dan acak yang akhirnya diartikan sendiri oleh orang yang melihat atau mendengarnya. Banyak kasus-kasus paredolia yang cukup terkenal dan menghebohkan dunia, contohnya saja 5 Bentuk Hewan Yang Mirip Penis yang pernah diposting sebelumnya. Namun, apabila dikerucutkan ke dalam dunia tumbuh-tumbuhan, ada beberapa bentuk dari bunga, buah atau juga bagian dari tumbuhan yang ternyata dapat disalahartikan karena mirip dengan organ-organ vital pria dan wanita. Memang akan ada perdebatan yang mengatakan bahwa bentuk-bentuk tumbuhan tersebut tidak mirip, namun ada pula yang akan mengatakan bahwa memang ada kemiripan dari segi bentuknya secara sekilas. Berikut  5 Tanaman Unik Yan

Warga Pengampon Dapati Money Politik Dari Pendukung Paslon No 01

Mediabidik.com - Beberapa jam menjelang coblosan Pilkada Surabaya 2020, praktik politik uang mulai terjadi. Seperti yang disampaikan Muhammad Rosul, salah satu warga Pengampon, kelurahan Bongkaran, mengungkapkan dirinya mendapatkan dua amplop berisi uang untuk mencoblos paslon nomor urut 01. "Saya dapat dua amplop dari Pak Sugeng, ia tetangga saya yang menjadi tim sukses 01," kata Rosul Selasa malam (8/12/20). "Di rumah saya ada empat suara, sekarang masih dikasih dua, nanti katanya mau dikasih lagi dua kekurangannya," lanjutnya.  Rosul menambahkan, Sugeng tidak tahu jika dirinya adalah pendukung Machfud Arifin-Mujiaman. Selama ini memang tidak terlalu aktif dalam proses pilwali karena sibuk mengurusi tokonya yang ada di Pasar Pecindilan.  "Kampung saya memang banyak pendukung 01, yang mengkoordinir ya Pak Sugeng itu. Saya cek ke tetangga, semuanya diberi amplop, masing-masing berisi uang Rp 30 ribu," lanjutnya.  Rosul menyatakan akan melaporkan temuan te

Mendapat Pujian Dari Mendagri, Damkar Kota Surabaya Menjadi Percontohan Perihal Respons Time

Mediabidik.com - Mendapat pujian dari Menteri Dalam Negeri (Mendagri) di HUT Damkar ke 102 Dinas Pemadam Kebakaran (Damkar) kota Surabaya dijadikan percontohan perihal respons time tercepat menuju lokasi. Karena hal itu Kepala Dinas Pemadam Kebakaran (Damkar) kota Surabaya diundang sebagai narasumber oleh Dirlantas Polda Jatim, Senin (8/3/2021). Dedi Irianto Kepala Dinas Pemadam Kebakaran kota Surabaya mengatakan, jadi hari ini, ada giat sosialisasi di Polda Jatim tentang Peningkatan Kemampuan Teknis Dalam Mengemudi Pemadam Kebakaran di jajaran Jawa Timur 2021. "Intinya di Polda ini, yang mengadakan Dirlantas Polda Jatim, setiap daerah mengirimkan empat personil Damkar yang tugasnya sebagai juru mudi. Se Jawa Timur, kemudian diadakan pelatihan teknis. "terang Dedi kepada media ini.  Dedi menjelaskan, ada beberapa pelatih dan narasumber salah satunya dari IMI, Lantas dan Damkar kota Surabaya, saya sendiri sebagai narasumber. Intinya di Surabaya ini respons time nya beda sama