Skip to main content

Hakim Vonis 3 Tahun Penjara, 4 Terdakwa Penjual Bayi

SURABAYA (Mediabidik) – Empat dari sepuluh pelaku jaringan penjualan bayi melalui sosial media Instagram akhirnya dinyatakan bersalah oleh majelis hakim Pengadilan Negeri (PN) Surabaya.

Hal itu terungkap pada sidang yang digelar dengan agenda vonis terhadap keempat terdakwa, Kamis (14/2/2019). Keempat terdakwa adalah Alton Phinadita Prinato (pemilik akun), Ni Ketut Sukawati (bidan), Larizza Anggraini (ibu kandung bayi dari Surabaya) dan Ni Nyoman Sirait (pembeli).

Sidang digelar secara bergantian. Oleh Jaksa Penuntut Umum (JPU) Ali Prakoso dari Kejari Surabaya, terdakwa Alton dituntut 3,5 tahun penjara yang akhirnya divonis hakim 3 tahun penjara.

Sedangkan ketiga terdakwa lainnya, dituntut jaksa 3 tahun penjara dan divonis hakim 2 tahun penjara. Selain hukuman badan, para terdakwa juga diwajibkan membayar denda yang jumlahnya bervariatif, masing-masing berkisar sekitar Rp 60an juta.

Hakim dan jaksa sepakat, keempat terdakwa telah terbukti secara sah dan menyakinkan bersalah melakukan tindak pidana melakukan perdagangan anak sebagaimana diatur dan diancam pidana dalam pasal 83 UU RI Nomor 35 Tahun 2014 tentang perubahan atas UU RI Nomor 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak.

"Menjatuhkan pidana terhadap terdakwa berupa pidana penjara selama 3 tahun dan denda sebesar Rp 60 juta subsider 3 bulan kurungan," ujar Ketua Majelis Hakim membacakan amar putusannya.

Menanggapi vonis hakim, para terdakwa masih menyatakan pikir-pikir guna melakukan upaya hukum banding," sepakat para terdakwa menjawab pertanyaan hakim.

Awal Perkara ini terbongkar karena operasi siber yang dilakukan tim Cyber Crime Polrestabes Surabaya. Pada akun IG bernama @konsultasihatiprivat yang dikelola terdakwa Alton, petugas mencium adanya praktek mencurigakan. Akun ini berkedok sebagai wadah konsultasi bagi wanita yang bermasalah dengan kehamilannya alias susah punya anak.

Kecurigaan petugas terbukti ketika berhasil membongkar praktik jual beli anak ilegal yang dilakukan antara terdakwa Larizza dengan Ni Made Sirait. Lalu apa peran Ni Ketut Sukawati?. Perempuan paruh baya yang berprofesi sebagai bidan ini berperan menjadi perantara.

Diceritakan dalam dakwaan jaksa, Larizza yang sudah memiliki 3 orang anak ini mengaku kesulitan ekonomi, sehingga berniat menjual anaknya dengan modus adopsi mematok harga Rp15 juta. Ia meminta bantuan Alton untuk mencarikan calon pembeli. Lalu Alton menghubungi si bidan. Oleh bidan dicarikan calon pembeli, bahkan bidan pun memasang harga Rp20 juta ke pembeli, Ni Made Sirait. Rencananya keuntungan Rp5 juta dari transaksi ini, bakal dibagi antara si bidan dengan Alton selaku pemilik akun.

Setelah disepakati harga, Larizza dan anaknya dijemput Alton dari Surabaya menuju ke Bali, tempat si bidan sekaligus tempat transaksi. Setelah bertemu dengan 'calon anaknya', akhirnya pembeli merasa cocok dan membayar Rp20 juta, serta membawa pulang si anak yang masih berusia 11 bulan itu ke rumahnya. Tak lama kemudian, polisi mengendus dan menangkap mereka.

Menurut Kepala Seksi Pidana Umum (Kasipidum) Kejari Surabaya Didik Adyotomo, ada 8 berkas terdiri dari 10 pelaku atas kasus ini. "Total sudah ada delapan berkas dari sepuluh tersangka. Namun dua orang tersangka lainnya berkas masih diteliti karena perlu perbaikan," pungkasnya.

Adapun ke delapan tersangka yakni Alton Phinadita Prinato (pemilik akun), Ni Ketut Sukawati (bidan), Larizza Anggraini (ibu kandung bayi dari Surabaya), Yuvi Berliana Sari (perantara), Mafazza Nurwahyu (pembeli), Bob Nehemia Oloan Pangihutan Sibuea (ayah bayi dari Tanggerang), Florentina Sukmawati (ibu kandung bayi dari Tanggerang) dan Ni Nyoman Sirait (pembeli).

Sedangkan dua tersangka lain yang masih menunggu berkasnya ditetapkan P21 oleh Kejari Surabaya, yakni Rahma Yuliati (pembeli) dan Irfadillah Zumarsa (ibu kandung bayi dari Malang). (opan)



Foto : Tampak keempat terdakwa saat berkordinasi dengan tim penasehat hukumnya, sesaat mendengarkan vonis hakim, Kamis (14/2/2019). Henoch Kurniawan


Comments

Popular posts from this blog

Komisi B Minta Pemprov serius sosialisasi dana pinjaman untuk pelaku UMKM

SURABAYA ( Media Bidik) - Jatim sangat apresiasi terhadap Pemprov yang mempunyai program membantu pelaku Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM) di Jatim dengan menggelontorkan dana sebesar 400 Miliar di Bank UMKM guna memberikan bantuan kredit lunak kepada para pelaku UMKM di Jatim. Namun Chusainuddin,S.Sos Anggota Komisi B yang menangani tentang Perekonomian menilai Pemerintah provinsi masih kurang serius memberikan sosialisasi kepada masyarakat terutrama pelaku UMKM yang sebenarnya ada dana pinjaman lunak untuk mereka. " Ketika saya menjalankan Reses di Blitar,Kediri dan Tulungagung , banyak masyarakat sana tak mengetahui ada dana pinjaman lunak di Bank UMKM untuk para pelaku UMKM, karena sebenarnya jika Pemprov serius memberikan sosialisasi sampai ke tingkat desa,maka saya yakin masyarakat sangat senang sekali," ucap pria yang akrab dipanggil Gus Udin tersebut. Apalagi menyambut MEA, seharusnya pelaku UMKM sudah mengerti kalau ada dana pinjaman unt

“NUUBON” Nugget Udang Rebon Kelurahan Sukolilo Baru, Hasil Karya Universitas Muhammadiyah Surabaya

SURABAYA - Pada tanggal 31 Juli 2022 tepatnya minggu kedua dari pelaksanaan KKN Universitas Muhammadiyah Surabaya tahun 2022, kelompok KKN Berdaya Sukolilo Baru telah berhasil melaksanakan program pelatihan dan pemberdayaan masyarakat berupa sosialisasi inovasi produk baru yaitu demo pembuatan "Nugget Udang Rebon". Kegiatan demo inovasi produk baru ini dilaksanakan di halaman Kelurahan Sukolilo Baru. Dalam kegiatan ini dibagi menjadi 2 sesi, dimana sesi pertama adalah sosialisasi produk dan demo masak nugget udang rebon dan sesi kedua adalah sosialisasi pemasaran produk secara online.  Proses pembuatan nugget udang rebon ini cukup mudah tetapi untuk mengelola udang rebon sendiri apalagi yang masih basah membutuhkan waktu.  "Artinya udang rebon basah yang telah dibersihkan dari kotoran itu ditiriskan hingga kadar airnya berkurang. Selain itu juga untuk menambah cipta rasa yang unggul udang rebon basah ini harus dikukus kurang lebih 5-10 menit. Selanjutnya, bi

Robot Trading, Disinyalir Banyak Oknum Bermain Untuk Mendapat Harta Ilegal

Surabaya - Akhir akhir ini, bisnis Trading nampak menjadi primadona. Bahkan dari bisnis ini, saat ini banyak Orang Kaya Baru (OKB) di Indonesia.  Sebenarnya tidak ada masalah jika tidak ada pelanggaran hukum didalamnya.  Dengan menjamurnya bisnis robot trading ini, maka banyak oknum yang sengaja bermain untuk mendapat harta dengan ilegal (tidak terdaftar dan tidak sesuai aturan OJK, red) dan berujung pada kasus hukum.  Seperti pada kasus robot trading Evortrad yang tengah disidangkan di Pengadilan Negri Malang.  Setelah pelimpahan kasusnya di Kejari Malang, maka disidangkanlah kasus ini dengan agenda awal pemeriksaan saksi-saksi.  Mengamati dari proses persidangan, nampak ada "Hukum Rimba" dalam bisnis ini. Artinya siapa yang kuat, dialah yang menang.  Menarik disimak, kasus sangkaan penipuan dilaporkan oleh beberapa orang member robot trading Evortrade dibawah PT. EVOLUSION PERKASA GROUP.  Anehnya, saat disidang, saksi pelapor mengaku tidak tahu apa apa. "K