Ads (728x90)

SURABAYA (Mediabidik) – Desember 2016 kemarin, Jatim mengalami inflasi sebesar 0,56 persen, dengan inflasi tertinggi berada di Kota Jember yang mencapai 0.93 persen, dan terendah di Kota Kediri sebesar 0,36 persen.

Dan, cabai menjadi penyumbang utama inflasi, ditambah komoditas pertanian lain seperti bawang merah, bawang putih, dan cabai rawit. Selain itu juga rokok kretek filter dan biaya pendidikan perguruan tinggi.

Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Jatim, Teguh Pramono mengatakan, beberapa komoditas menjadi penyumbang inflasi karena nilai konsumsi yang tinggi namun tidak dibarengi dengan produksi yang cukup, sehingga harga di pasaran melambung tinggi.

"Hampir semua kelompok pengeluaran mengalami inflasi pada akhir tahun kemarin, kecuali kelompok sandang yang mengalami deflasi 0,59 persen," tandas Teguh Pramono, Selasa (3/1/2017).

Untuk komoditas utama yang memberikan andil terbesar inflasi pada Desember 2016 adalah telur ayam ras, tarif angkutan udara, tarif pulsa ponsel, bensin, dan cabai rawit

Sedangkan komoditas yang memberikan andil terbesar deflasi ialah emas perhiasan, bawang merah, cabai merah dan apel.

Untuk laju inflasi tahunan kalender Desember 2016 Jatim mencapai 2,74 persen. Angka tersebut lebih rendah dibanding tahunan kalender Desember 2015 yang mencapai 3,08 persen.

"Jatim secara umum masih bagus, sebab masih berada pada kisaran 2 persen, sedangkan nasional di atas 3 persen," pujinya. Menurutnya, ini karena di Jatim ada tim pengendalian harga.

Disebutkan, seluruh ibu kota provinsi di Pulau Jawa pada akhir tahun kemarin mengalami inflasi. Inflasi terendah terjadi di Serang 0,12 persen, diikuti Semarang 0,20 persen, dan DKI Jakarta 0.27 persen.

Setelah itu, Yogyakarta sebesar 0, 35 persen, Surabaya 0,56 persen, dan tertinggi di Bandung mencapai 0,63 persen. (haria)

Teks Foto: Kepala BPS Jatim, Teguh Pramono.

Post a Comment