Ads (728x90)

Surabaya-Jika dalam kurun waktu 14 hari sesudah melakukan perjalanan terutama dari kawasan Timur Tengah, Anda mengalami demam dan gejala sakit di saluran pernapasan bagian bawah, seperti batuk atau sesak napas, segera periksakan diri ke dokter. Jangan diabaikan begitu saja.

Bisa saja Anda terserang virus Corona penyebab Middle East Respiratory Syndrome Corona Virus (MERS-CoV). Apalagi saat ini pemberitaan tentang penyakit MERS sangat gencar. Memang bagi masyarakat awam, dari mana asalnya dan bagaimana penularan penyakit ini masih asing.

Menurut dr. Indro Harianto, SpPD dari RS Husada Utama Surabaya, Minggu (11/5/2014), penyakit MERS pertama kali dilaporkan pada 2012 di Arab Saudi. Meski sumber pertama MERS masih belum diketahui, tetapi para ilmuwan menduga kuat penyakit ini berasal dari unta. Penelitian mengonfirmasi unta dan kelelawar di Arab Saudi positif memiliki virus ini.

Spekulasi lain yang terdapat di kalangan para peneliti menyebutkan, selain kelelawar, unta juga diduga kuat berkaitan dengan asal mula dan penyebaran virus Corona, dimana ditemukan antibodi terhadap virus ini dalam tubuh hewan khas Timur Tengah tersebut.

''Ada dugaan manusia pertama yang terinfeksi, mungkin pernah secara tidak sengaja menghirup debu kotoran kering kelelawar yang terinfeksi. Namun mekanisme penyebaran virus Corona dari hewan ke manusia masih diteliti,''ujar dr Indro, Minggu (11/5/2014).

Ia menjelaskan para peneliti masih menyelidiki kemungkinan hewan lain yang menjadi mediator penularan virus Corona guna menangani meluasnya penyebaran penyakit ini, mengingat jenis virus ini dikatakan lebih mudah menular antar-manusia dengan dampak yang lebih mematikan dibandingkan SARS.

Infeksi MERS-CoV yang dialami sebagian besar orang akan berkembang menjadi penyakit saluran pernapasan berat atau sedang, dengan gejala-gejala demam, batuk dan napas pendek. Namun sampai saat ini, masih terus dilakukan investigasi mengenai pola penularannya karena telah ditemukan penularan dari manusia ke manusia yang kontak dekat dengan penderita.

Menurut dr.Indro, penularan dari pasien yang terinfeksi kepada petugas kesehatan yang merawat juga diamati. Selain itu, kluster dari kasus infeksi MERS-CoV di Arab Saudi, Jordania, Inggris, Prancis, Tunisia dan Italia juga diinvestigasi.

Badan Kesehatan Dunia (WHO) telah mengeluarkan peringatan untuk mewaspadai ancaman penyebarannya yang semakin meluas sejak April 2012. Namun masyarakat tetap bisa melakukan perjalanan atau berkunjung ke negara-negara di kawasan Timur Tengah dan sekitarnya, karena Badan Kesehatan Dunia (WHO) dan Center for Disease Control and Prevention (CDC) Amerika Serikat tidak akan mengeluarkan surat travel warning tentang kesehatan kepada negara-negara yang terkait dengan MERS-CoV.

''Tes laboratorium Polymerase Chain Reaction (PCR) untuk MERS-CoV tersedia di Kementerian Kesehatan dan beberapa laboratorium internasional, namun tes ini bukan tes rutin,''tukasnya.
Penularan MERS dapat terjadi secara langsung maupun tak langsung. Secara langsung terjadi melalui percikan dahak (droplet) ketika pasien batu atau bersin. Sedangkan secara tak langsung melalui kontak dengan benda yang terkontaminasi virus.

Hingga saat ini belum ada vaksin yang spesifik dapat mencegah infeksi MERS-CoV dan belum ditemukan metode pengobatan yang secara spesifik dapat menyembuhkan penyakit tersebut. Perawatan medis hanya bersifat meringankan gejala.

Pengobatan yang diberikan hanya difokuskan pada penanganan terhadap komplikasi dari penyakit ini. Tindakan isolasi dan karantina mungkin dilakukan untuk mencegah penyebaran penyakit MERS-CoV.
Ada beberapa langkah sederhana pencegahan MERS yang membantu tubuh kita menjalankan perannya dalam menangkal serangan virus. Yakni : tutuplah hidung dan mulut dengan tisu ketika batuk atau bersin, dan segera buang tisu ke tempat sampah; hindari menyentuh mata, hidung dan mulut dengan tangan yang belum dicuci; hindari kontak secara dekat dengan penderita, misalnya bersentuhan atau penggunaan alat makan minum bersama; bersihkan barang-barang yang sering disentuh dengan menggunakan desinfektan; terapkan Pola Hidup Bersih dan Sehat (PHBS); biasakan mencuci tangan dengan sabun sebelum melakukan aktivitas dan sesudahnya; perkuat imunitas dengan asupan bernutrisi serta istirahat cukup. (nos/ beritasurabaya.net )

Teks foto :
dr Indro Harianto, SpPD.
Foto : Humas RS Husada Utama.


Post a Comment