Skip to main content

EJA : Narkoba Memang Berbahaya, Yang Lebih Berbahaya Adalah Kebijakannya

SURABAYA (Mediabidik) Negara direkomendasikan mengambil alih tata kelola peredaran gelap narkoba, berikut yang ditekankan Empowerment and Justice Action (EJA) pada kampanye yang diberi tema 'Support Dont Punish', yang digelar di Hotel 88, Kedungsari Surabaya, Kamis (25/7/2019).

Pendiri EJA, Rudi Wedhasmara kepada media mengatakan tujuan kampanye ini menyerukan bahayanya perang terhadap narkotika. "Bahaya terhadap upaya memerangi narkotika selain menyedot banyaknya anggaran juga berdampak terhadap masalah sosial dan penyakit dalam masyarakat dan yang tak kalah pentingnya adanya pelanggaran HAM saat proses penegakan UU itu sendiri," terang Rudi.

Kampanye ini memiliki pesan, bagaimana pengendalian narkotika ini untuk tidak diserahkan pada pasar gelap, tapi diambil alih oleh negara. Baik sejak proses produksi, distribusi, peredaran hingga tahap konsumsi.

"Masalahnya, saat ini peredaran narkotika diserahkan ke pasar gelap dan yang diuntungkan adalah bandar dan para gembong narkoba," beber Rudi.

Yang kedua, harapan dari kampanye ini, pelaku tindak pidana penyalahgunaan narkoba tidak dipenjarakan. "Bahwa alternatif penghukuman tidak selalu penjara. Tapi cenderung lebih sangsi sosial, jadi punishment nya lebih manusiawi," harapnya.

Ketiga, upaya penghapusan hukuman mati terhadap pengguna narkoba. "Faktanya saat ini penerapan hukuman mati terhadap 300 orang ternyata tidak mengurangi peredaran gelap narkoba. Artinya penghukuman berat tidak menghentikan peredaran gelap, malah semakin membuat mahal komoditi narkotika. Semakim mahal kembali yang diuntungkan adalah produsen, gembong dan bandar narkoba," bebernya.

Kampanye juga berharap penanggulangan penyalah gunaan narkotika melalui cara pendekatan dengan masyarakat melalui pelayanan kesehatan, salah satunya rehabilitasi dan layanan sosial.

"Jadi tidak ada istilah pengguna maupun pemakai narkoba, tapi istilahnya sebagai konsumen. Memang, penggunaaan zat narkoba memang berbahaya, tapi lebih berbahaya dampak dari kebijakan perang terhadap narkoba ini sendiri," tambahnya.

Masih Rudi, berdasarkan temuan di lapangan, tidak ada masalah yang ditimbulkan secara signifikan terhadap pengguna narkoba dalam kehidupan kesehariannya.

"Mereka tetap bisa efektif dan produktif, namun masalah besar baru timbul saat mereka tertangkap aparat untuk menghadapi kebijakan narkotika. Hancur semua, karirnya, keluarganya dan keuangannya. Jadi yang lebih berbahaya adalah kebijakannya itu sendiri," beber Rudi.

Menurut EJA, sikap Indonesia terhadap narkoba masih abu-abu. Satu sisi narkoba dilarang, sisi lain pasar gelap dibiarkan. Jika narkoba dilarang, maka pasar gelap yang mengeruk keuntungan dari para konsumen narkoba. Selain itu, korban yang merupakan konsumen juga akan terus berjatuhan, penjara-penjara akan penuh dan akhirnya membebani negara.

Sebagai upaya serius mengkampanyekan gerakan ini, diterbitkan buku "Menggugat Perang Terhadap Narkoba" yang ditulis Patri Handoyo. Mengapa? Berangkat dari proses amandemen Undang-undang Narkotika dan Psikotropika RI 2007 dalam legislasi nasional 2004-2009 yang intinya kebijakan yang dibuat tidak hanya memuat pendekatan pidana bagi konsumen Napza melainkan lebih mengedepankan pendekatan Hak Asasi Manusia (HAM).

Di satu sisi pengambil alihan tata kelola peredaran gelap narkoba oleh negara agar bukan berarti negara melegalkan penggunaan narkoba secara bebas, melainkan lebih kepada mengatur dan mengendalikan tindak-tindak kriminalitas yang muncul akibat perang pasar gelap penggunaan narkoba.

Buku tersebut banyak menguraikan alasan ilmiah tentang pentingnya negara melakukan pengendalian narkoba. Contoh lain, ialah peraturan soal minuman keras yang dituangkan dalam berbagai perda di daerah di Indonesia. Di Indonesia kalau perda-perda miras tidak direvisi akan menimbulkan korban-korban miras oplosan. Kebijakan yang bersifat pelarangan akan menimbulkan dampak lebih buruk dalam mengkonsumsi zat ini. 

Tidak banyak yang memahami apa yang dimaksudkan penulis dalam memahami perang terhadap narkoba dan pengendalian narkoba oleh pemerintah. Karena dua sisi ini ibarat dua sisi mata uang yang satu sama lain saling berkaitan. (opan)


Foto : Tampak diskusi bertajuk "Pojok Dialog Jurnalis, mengupas Upaya Pemerintah dalam Penanggulangan Narkoba sebagai upaya Kampanye Support Don't Punish di Surabaya" yang diselenggarakan EJA bersama para jurnalis dari berbagai organisasi wartawan di Surabaya, Kamis (25/7/2019). Henoch Kurniawan

Comments

Popular posts from this blog

5 Tanaman Unik Mirip Alat Kelamin Manusia

Tentunya, setiap orang pernah mengalami fenomena psikologis yang mengibaratkan suatu benda terlihat seperti obyek lain. fenomena psikologis tersebut juga muncul di dunia tumbuh-tumbuhan. Dalam Wikipedia, arti dari pareidolia adalah fenomena psikologis yang mengikutsertakan stimulus samar dan acak yang akhirnya diartikan sendiri oleh orang yang melihat atau mendengarnya. Banyak kasus-kasus paredolia yang cukup terkenal dan menghebohkan dunia, contohnya saja 5 Bentuk Hewan Yang Mirip Penis yang pernah diposting sebelumnya. Namun, apabila dikerucutkan ke dalam dunia tumbuh-tumbuhan, ada beberapa bentuk dari bunga, buah atau juga bagian dari tumbuhan yang ternyata dapat disalahartikan karena mirip dengan organ-organ vital pria dan wanita. Memang akan ada perdebatan yang mengatakan bahwa bentuk-bentuk tumbuhan tersebut tidak mirip, namun ada pula yang akan mengatakan bahwa memang ada kemiripan dari segi bentuknya secara sekilas. Berikut  5 Tanaman Unik Yan

Warga Pengampon Dapati Money Politik Dari Pendukung Paslon No 01

Mediabidik.com - Beberapa jam menjelang coblosan Pilkada Surabaya 2020, praktik politik uang mulai terjadi. Seperti yang disampaikan Muhammad Rosul, salah satu warga Pengampon, kelurahan Bongkaran, mengungkapkan dirinya mendapatkan dua amplop berisi uang untuk mencoblos paslon nomor urut 01. "Saya dapat dua amplop dari Pak Sugeng, ia tetangga saya yang menjadi tim sukses 01," kata Rosul Selasa malam (8/12/20). "Di rumah saya ada empat suara, sekarang masih dikasih dua, nanti katanya mau dikasih lagi dua kekurangannya," lanjutnya.  Rosul menambahkan, Sugeng tidak tahu jika dirinya adalah pendukung Machfud Arifin-Mujiaman. Selama ini memang tidak terlalu aktif dalam proses pilwali karena sibuk mengurusi tokonya yang ada di Pasar Pecindilan.  "Kampung saya memang banyak pendukung 01, yang mengkoordinir ya Pak Sugeng itu. Saya cek ke tetangga, semuanya diberi amplop, masing-masing berisi uang Rp 30 ribu," lanjutnya.  Rosul menyatakan akan melaporkan temuan te

Komisi B Minta Pemprov serius sosialisasi dana pinjaman untuk pelaku UMKM

SURABAYA ( Media Bidik) - Jatim sangat apresiasi terhadap Pemprov yang mempunyai program membantu pelaku Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM) di Jatim dengan menggelontorkan dana sebesar 400 Miliar di Bank UMKM guna memberikan bantuan kredit lunak kepada para pelaku UMKM di Jatim. Namun Chusainuddin,S.Sos Anggota Komisi B yang menangani tentang Perekonomian menilai Pemerintah provinsi masih kurang serius memberikan sosialisasi kepada masyarakat terutrama pelaku UMKM yang sebenarnya ada dana pinjaman lunak untuk mereka. " Ketika saya menjalankan Reses di Blitar,Kediri dan Tulungagung , banyak masyarakat sana tak mengetahui ada dana pinjaman lunak di Bank UMKM untuk para pelaku UMKM, karena sebenarnya jika Pemprov serius memberikan sosialisasi sampai ke tingkat desa,maka saya yakin masyarakat sangat senang sekali," ucap pria yang akrab dipanggil Gus Udin tersebut. Apalagi menyambut MEA, seharusnya pelaku UMKM sudah mengerti kalau ada dana pinjaman unt