Ads (728x90)

foto dampak luapan kali lamong disurabaya barat
SURABAYA ( Media Bidik) - Kawasan Surabaya Barat hingga kini belum bisa lepas dari ancaman bahaya banjir.  Seharusnya untuk menimalisir banjir perlu dibangun pompa air di beberapa kawasan yang selama ini menjadi kantong banjir. Kepala Bidang Pematusan Dinas PU Bina Marga dan Pematusan (DPBMP) Kota Surabaya Samsul Hariadi mengatakan sebenarnya pompa air di Surabaya Barat sudah ada. Namun dirasakan masih kurang karena hanya ada 2 yaitu di  Tambak Langon dan di Margomulyo."Perlu penambahan pompa air  di wilayah barat. Yaitu di Sumberejo, Kandangan, Tambaklangon dan Kalianak. Ke empat daerah dilalui sungai menuju ke laut," katanya. Jumat ( 15/1).

Khusus untuk Tambaklangon, masih lanjutnya, sebenarnya sudah ada. Namun perlu penambahan pompa lagi karena di pompa yang ada belum mencukupi, terutama saat hujan deras yang berbarengan dengan air laut pasang. Adanya pertemuan air laut dan air sungai mengakibatkan meluber ke   pemukiman. "Sedangkan pompa di Sumberejo ini pasang untuk mengurangi dampak banjir ketika Kali Lamong meluap. Memang sekarang sudah dipasang tanggul, namun juga perlu antisipasi pompa air di sana," tegasnya.

Disinggung kapan dilakukan pembangunan pompa air di sana, Samsul mengatakan kemungkinan dilakukan pada tahun 2017 nanti. Sedangkan untuk sekarang ini pengadaan pompa air dilakukan di Surabaya Timur dan beberapa daerah lainnya. Persoalan lainnya adalah potensi banjir di sekitar  saluran air Banyuurip untuk wilayah Manukan Kulon hingga ke Benowo.  Ini terjadi  karena hingga sekarang ini, saluran di sana belum dibangun box culvert. Tentu saja potensi banjir masih tinggi. Apalagi perkampungan sisi selatan saluran  Banyuurip,  selama ini kerap tenggelam karena posisi kampung lebih rendah dari saluran.  Begitu hujan deras, saluran Banyuurip yang masih terbuka itu tak mampu menampung air, maka akan meluap ke perkampungan.

Tidak itu saja,  air itu juga meluap ke jalanan melewati sela jembatan. Bahkan air juga merendam kampung di sisi utara saluran. Kondisi kerap juga menimbulkan konflik antar kampung sisi selatan dengan kampung sisi utara.  Ketika kampung sisi selatan  kebanjiran, tak jarang warga membongkar tanggul saluran  sisi utara dengan harapan air bisa mengalir ke sana."Kalau hujan deras, pasti daerah Banjar Sugihan akan kebanjiran terutama sisi selatan,. Tak heran, warga pun menyudet atau membongkar tanggul sisi selatan untuk mengurangi luapan air . Dampaknya air  dari saluran itu lari ke sisi utara," kata Sulaiman, warga Banjar Sugihan.

Kepala Dinas Pekerjaan Umum Bina Marga dan Pematusan (DPUBMP) Kota Surabaya, Erna Purnawati, mengakui bila pembangunan box culvert di Jl BanyuUrip masih dikebut penyelesaiannya. Hingga kini Pemkot sudah mengeluarkan Rp 190 miliar untuk proyek box culvert Banyuurip itu. "Detailnya, Rp 62,3 miliar untuk pembebasan lahan serta Rp 128,2 miliar untuk pengerjaan fisik jalan," kata Erna.

Pengerjaan proyek box culvert Banyuurip itu dimulai sejak 2009. Pemkot sempat mengerjakan fisik jalan mulai 2009 hingga 2011, tepatnya mulai Girilaya hingga Simojawar. Namun, per 2012 pembangunan fisik dibiayai sepenuhnya oleh APBN Kementerian PU. Sedangkan Pemkot tetap bertanggung jawab terhadap pembebasan lahannya. Total, sebanyak 700-an persil telah dibebaskan Pemkot sehingga saat ini."Pada 2016  untuk  bagian barat dari  Manukan Kulon hingga Benowo akan dilanjutkan proyek box culvert. Selebihnya, fisik jalan ditanggung Kementerian PU," tandas Erna.

Sementara itu Sumarno Kepala Bakesbangpol Kota Surabaya mengatakan  pihaknya melakukan pengawasan ketat terhadap daerah yang potensi banjir. Caranya dengan menyiagakan tim yang rutin patroli di daerah itu bila hujan sedang turun. Selain itu, di titik terdekat, juga sudah ada persiapan karung-karung pasir untuk membantu bila ada kejadian. Termasuk juga mesin pompa untuk menyedot air. Karena itulah, genangan itu bisa diantisipasi dengan memasang pompa air untuk mengalirkan genangan itu ke tempat yang aman. 

Ancaman genangan di sekitar proyek juga bisa memberi imbas kemacetan. Apalagi arus lalu lintas di daerah itu sangat padat, terutama di jam berangkat dan pulang kerja hingga malam hari. "Pokoknya kalau ada genangan dan macet saat hujan, kami mohon info dari masyarakat. Kalau pas tidak ada patroli, bisa dikabarkan ke kami, agar segera tim melakukan penguraian dan pengalihan genangan," tandas Soemarno, yang menjadi sekretaris tim Satuan Pelaksanan (Satlak) Bencana Kota Surabaya itu.(pan)

Post a Comment