Skip to main content

Komisi D Soroti Rendahnya Capaian Sejumlah Program Strategis di Dinkes Surabaya

SURABAYAIMediabidik.Com– Pembahasan Laporan Pertanggungjawaban (LPJ) Tahun Anggaran 2025 Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Surabaya di Komisi D DPRD Surabaya, Selasa (14/7/2026), berlangsung dinamis.

Sejumlah anggota dewan menyoroti rendahnya capaian sejumlah program strategis, mulai dari pengadaan alat kesehatan, rehabilitasi fasilitas kesehatan, hingga pembiayaan BPJS Kesehatan bagi warga miskin.

Rapat yang dihadiri Kepala Dinas Kesehatan Surabaya, dr. Billy D. Mesakh, beserta jajaran itu juga mengupas efektivitas belanja kesehatan dan arah kebijakan pelayanan publik pada 2026.

Anggota Komisi D DPRD Surabaya, dr. Michael Leksodimulyo, mengapresiasi kinerja Dinkes secara umum. Namun, ia mengingatkan masih ada sejumlah indikator yang mengalami penurunan tajam dan perlu mendapat perhatian serius.

"Secara keseluruhan payment report-nya sudah bagus. Cuma saya menyoroti beberapa titik yang harus diperbaiki, terutama untuk kinerja di beberapa bagian," ujar Michael.

Ia mempertanyakan capaian pengadaan barang milik daerah yang terus menurun. Menurutnya, realisasi pada 2024 mencapai 62 persen, turun menjadi 37 persen pada 2025, sementara hingga pertengahan 2026 baru menyentuh sekitar 5 persen.

"Padahal sekarang sudah masuk pertengahan tahun 2026. Ini kenapa? Apa yang perlu disupport? Kalau melihat angkanya, jangan-jangan sampai akhir tahun hanya 20 sampai 30 persen," katanya.

Sorotan serupa juga diarahkan pada pengadaan alat kesehatan yang turun dari 96 persen pada 2024 menjadi 77 persen pada 2025, bahkan belum terealisasi pada 2026. Michael juga mempertanyakan minimnya realisasi pengadaan obat, bahan medis, rehabilitasi fasilitas kesehatan, hingga pengembangan sumber daya manusia yang disebut masih berada di angka nol persen.

Selain persoalan anggaran, Michael menilai layanan kesehatan jiwa perlu diperkuat. Ia mengusulkan agar dokter spesialis, psikiater maupun psikolog memiliki jadwal pelayanan rutin di puskesmas.

"Sekarang masyarakat sedang menghadapi tekanan ekonomi, PHK meningkat. Banyak persoalan kejiwaan yang harus menjadi konsen puskesmas sehingga angka bunuh diri jangan sampai meningkat," tegasnya.

Anggota Komisi D lainnya, William Wirakusuma, mempertanyakan rendahnya realisasi rehabilitasi dan pemeliharaan fasilitas kesehatan lainnya yang hanya sekitar 15 persen. Menurutnya, kondisi fasilitas kesehatan di Surabaya sudah baik dan harus terus dipertahankan melalui pemeliharaan yang optimal.

Sementara itu, Imam Syafi'i mengangkat isu yang lebih luas. Ia meminta Dinkes membuka hasil pemeriksaan kasus keracunan massal yang sempat menjadi perhatian publik serta mempertanyakan belum optimalnya pemanfaatan Laboratorium Kesehatan Daerah (Labkesda).

"Labkesda ini penyumbang pendapatan yang besar. Kalau belanjanya tidak terserap maksimal, apa penyebabnya? Kami justru mendukung agar Labkesda dikembangkan karena market-nya masih terbuka lebar," ujarnya.

Imam juga meminta penjelasan mengenai besaran anggaran BPJS Penerima Bantuan Iuran (PBI) yang dibiayai APBD pada 2023 hingga 2025. Menurutnya, data tersebut penting untuk mengkaji persoalan akses layanan kesehatan bagi masyarakat miskin.

Menanggapi berbagai pertanyaan tersebut, Kepala Dinas Kesehatan Surabaya, dr. Billy D. Mesakh, menjelaskan bahwa rendahnya realisasi pengadaan alat kesehatan maupun sarana prasarana pada 2026 disebabkan proses pengadaan yang masih berjalan.

"Kalau pengadaan alkes dan sarana prasarana, sekarang masih dalam proses pengadaan. Untuk penurunan dibanding tahun sebelumnya, kami sangat menyesuaikan kebutuhan. Ketika kebutuhannya berkurang, otomatis anggarannya juga menurun," jelas Billy.

Terkait rehabilitasi fasilitas kesehatan, ia mengatakan fokus anggaran lebih banyak diarahkan untuk rehabilitasi puskesmas, sedangkan fasilitas kesehatan lainnya seperti Labkesda dan Faskes hanya membutuhkan pemeliharaan terbatas.

"Untuk puskesmas anggarannya tetap besar. Yang 15 persen itu khusus untuk Labkesda dan Fasilitas Kesehatan Tingkat Pertama karena memang usulan pemeliharaannya tidak besar," katanya.

Mengenai kasus malaria, Billy memastikan Surabaya bukan daerah endemis. Menurutnya, kasus yang ditemukan umumnya merupakan kasus impor dari warga yang baru kembali dari daerah endemis.

"Soal malaria, dari data memang Surabaya bukan daerah endemis. Yang ada justru kasus impor atau warga yang akan bepergian dan meminta obat profilaksis," ujarnya.

Sedangkan terkait hasil pemeriksaan laboratorium yang menjadi perhatian publik, Billy menegaskan dirinya tidak memiliki kewenangan menyampaikan hasil tersebut kepada masyarakat. Menurutnya, penyampaian hasil pemeriksaan memiliki mekanisme dan kewenangan tersendiri sesuai prosedur yang berlaku.(red)

Comments

Popular posts from this blog

Dalih Partisipasi Masyarakat, SMAN 8 Surabaya Wajibkan Siswa Bayar Uang Iuran Rp 1,5 Juta

Mediabidik.com - Berdalih iuran partisipasi masyarakat (PM), SMAN 8 Surabaya wajibkan siswa bayar uang iuran pembangunan sekolah sebesar Rp 1,5 juta. Jika tidak membayar siswa tidak dapat ikut ujian. Hal itu diungkapkan Mujib paman dari Farida Diah Anggraeni siswa kelas X IPS 3 SMAN 8 Jalan Iskandar Muda Surabaya mengatakan, ada ponakan sekolah di SMAN 8 Surabaya diminta bayar uang perbaikan sekolah Rp.1,5 juta. "Kalau gak bayar, tidak dapat ikut ulangan," ujar Mujib, kepada BIDIK. Jumat (3/1/2020). Mujib menambahkan, akhirnya terpaksa ortu nya pinjam uang tetangga 500 ribu, agar anaknya bisa ikut ujian. "Kasihan dia sudah tidak punya ayah, ibunya saudara saya, kerja sebagai pembantu rumah tangga. Tolong dibantu mas, agar uang bisa kembali,"ungkapnya. Perihal adanya penarikan uang iuran untuk pembangunan gedung sekolah, dibenarkan oleh Atika Fadhilah siswa kelas XI saat diwawancarai. "Benar, bilangnya wajib Rp 1,5 juta dan waktu terakh...

Komisi B Minta Pemprov serius sosialisasi dana pinjaman untuk pelaku UMKM

SURABAYA ( Media Bidik) - Jatim sangat apresiasi terhadap Pemprov yang mempunyai program membantu pelaku Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM) di Jatim dengan menggelontorkan dana sebesar 400 Miliar di Bank UMKM guna memberikan bantuan kredit lunak kepada para pelaku UMKM di Jatim. Namun Chusainuddin,S.Sos Anggota Komisi B yang menangani tentang Perekonomian menilai Pemerintah provinsi masih kurang serius memberikan sosialisasi kepada masyarakat terutrama pelaku UMKM yang sebenarnya ada dana pinjaman lunak untuk mereka. " Ketika saya menjalankan Reses di Blitar,Kediri dan Tulungagung , banyak masyarakat sana tak mengetahui ada dana pinjaman lunak di Bank UMKM untuk para pelaku UMKM, karena sebenarnya jika Pemprov serius memberikan sosialisasi sampai ke tingkat desa,maka saya yakin masyarakat sangat senang sekali," ucap pria yang akrab dipanggil Gus Udin tersebut. Apalagi menyambut MEA, seharusnya pelaku UMKM sudah mengerti kalau ada dana pinjaman unt...

Komisi B Dorong Pemkot Naikan APBD Surabaya Rp10 T

SURABAYA (Mediabidik) – Komisi B mendorong pemerintah kota (Pemkot) Surabaya untuk menaikan APBD 2019 naik menjadi Rp10 triliun. "Kemarin dari Rp9.9 triliun sekarang kita dorong menjadi Rp10 triliun," ujar Luthfiyah Ketua Komisi B DPRD Kota Surabaya, Rabu (02/10/2019) siang. APBD Rp10 triliun, Politisi Gerinda ini meminta Pemkot untuk mempersiapkan pembahasannya seperti apa untuk Rp10 triliun ini. "Akan kita tanyain mereka (pemkot) siap apa tidak, karena kita mendorong untuk kesana, insya allah kata mereka siap," paparnya. Untuk itu, pihaknya segera akan mengundang semua dinas - dinas terkait, untuk membahas APBD Rp10 triliun ini. "Untuk BUMD nya besok Senin kita diundang," pungkasnya. (pan) Foto : Ketua Komisi B DPRD Surabaya Lutfiyah