Skip to main content

Pembangunan Gedung SMPN dan Puskesmas Mangkrak, DPRD Soroti Lemahnya Pengawasan

SURABAYAIMediabidik.Com– Harapan warga Kota Surabaya untuk menikmati fasilitas pendidikan dan kesehatan baru di awal tahun 2026 harus tertunda akibat kegagalan kontraktor dalam menuntaskan tanggung jawabnya. Pembangunan SMP Negeri di kawasan Tambak Wedi dan Puskesmas Manukan Kulon kini resmi dinyatakan mangkrak, memicu reaksi keras dari Komisi D DPRD Kota Surabaya dalam Rapat Koordinasi yang digelar pada Rabu, (7/1/2026).

Kritik tajam datang dari Johari Mustawan, anggota Komisi D, yang menyoroti lemahnya kredibilitas penyedia jasa. Ia mendesak Pemerintah Kota (Pemkot) Surabaya untuk bersikap tegas terhadap kontraktor yang tidak amanah. "Pemkot harus waspada terhadap kemungkinan kontraktor bermasalah ini berganti nama untuk mengikuti tender di masa depan," ujar Johari. Ia juga memberikan usulan teknis agar anggaran pengawasan ditingkatkan menjadi 3 persen demi memperketat sistem screening dan evaluasi sebelum kontrak atau HDC Cleaning.

Di sisi lain, anggota Komisi D Abdul Malik memberikan catatan khusus mengenai nasib para pekerja di lapangan. Ia mengingatkan bahwa aspek kemanusiaan jangan sampai terlupakan di tengah carut-marut proyek konstruksi ini. "Pekerjaan tersebut konsepnya dikerjakan oleh padat karya, kemudian yang dikerjakan oleh penyedia supaya pekerja ini diperhatikan masalah jaminan sosial ketenagakerjaannya," tutur Abdul Malik dengan nada serius.

Persoalan ini juga menyentuh aspek hukum yang cukup rumit. Ratih, selaku Juru Bicara Bagian Hukum dan Kerjasama (Bakumkarsa) Pemkot Surabaya, menekankan bahwa pemberian sanksi kepada kontraktor nakal adalah langkah yang tidak bisa ditawar. "Terkait proyek pengerjaan yang tidak selesai, itu sudah pasti disanksi blacklist. Ini adalah pembelajaran bagi pelaksana lapangan," tegas Ratih. Ia juga menanggapi kekhawatiran dewan mengenai kontraktor yang menggunakan identitas orang lain untuk kembali ikut tender. "Sebagai masukan ya, untuk menghindari ketika orang itu ikut lagi, kita akan kawal pak," tambahnya.

Menanggapi carut-marut tersebut, Kepala Dinas Kesehatan Surabaya, Nanik Sukristina, menjelaskan bahwa proyek Puskesmas Manukan Kulon memang menemui kendala kompleks sejak tahap pengadaan lahan. Selain sulitnya mencari lokasi yang sesuai aturan luasan minimal, keberadaan infrastruktur eksisting juga menjadi penghambat. "Ada tower (kominikasi) juga yang kita minta untuk dipindahkan, sehingga sempat menghambat progres pembangunan. kita tegaskan bahwa itu harus dipindahkan," jelas Nanik.

Sementara itu, Kepala Dinas Pendidikan Surabaya, Febrina Kusumawati, memilih fokus pada solusi percepatan agar anak-anak sekolah tidak menjadi korban lebih lama. Pihaknya berencana melakukan tender ulang dengan target yang sangat ketat. "Bayangan saya hari ini, begitu PPDB selesai, kalau misalkan itu kita bisa menyelamatkan anak-anak untuk bisa beroperasi dan bersekolah lagi di pertengahan tahun ini," ungkap Febrina. Ia menargetkan minimal satu lantai bangunan sudah dapat digunakan pada bulan Juli mendatang agar proses belajar mengajar tidak terganggu.

Menutup penjelasan dari sisi eksekutif, Ali Murtadlo selaku Kepala Bagian Pengadaan Barang, Jasa, dan Administrasi Pembangunan, memaparkan bahwa kegagalan kontraktor di tengah jalan sebagian besar dipicu oleh masalah likuiditas. Aly memastikan bahwa sanksi berat telah dijatuhkan kepada pihak ketiga yang lalai. "Ketika semua proses pembangunan tidak memenuhi waktu yang ditentukan, itu kan kadang-kadang masih ada perpanjangan waktu, perpanjangan waktu itu pun kena denda. Kalau tidak memenuhi lagi ya di blacklist, sudah putus kontrak," tegas Ali.

Ketua Komisi D DPRD Surabaya, dr. Akmarawita Kadir, memberi atensi atas mandeknya dua proyek strategis tersebut. Proyek SMP Tambak Wedi yang dialokasikan anggaran sebesar Rp.8 miliar nyatanya baru terselesaikan sekitar 37 persen. "Dampaknya cukup signifikan, harapan warga untuk menikmati fasilitas sekolah baru harus tertunda," tegas Akmarawita saat memimpin rapat. Kondisi serupa terjadi pada Puskesmas Manukan Kulon yang hanya mencapai progres 67,1 persen, padahal fasilitas kesehatan tersebut sangat krusial bagi warga di wilayah Surabaya Barat.

Rapat koordinasi ini menjadi pengingat keras bagi jajaran Pemerintah Kota Surabaya bahwa pembangunan fasilitas publik tidak boleh main-main. Komisi D menekankan bahwa kegagalan ini harus menjadi cermin besar bagi sistem pengawasan proyek di masa depan, agar objek vital yang menyangkut hajat hidup orang banyak tidak lagi terbengkalai akibat lemahnya pengawasan terhadap kredibilitas pengembang. (red)

Comments

Popular posts from this blog

Dalih Partisipasi Masyarakat, SMAN 8 Surabaya Wajibkan Siswa Bayar Uang Iuran Rp 1,5 Juta

Mediabidik.com - Berdalih iuran partisipasi masyarakat (PM), SMAN 8 Surabaya wajibkan siswa bayar uang iuran pembangunan sekolah sebesar Rp 1,5 juta. Jika tidak membayar siswa tidak dapat ikut ujian. Hal itu diungkapkan Mujib paman dari Farida Diah Anggraeni siswa kelas X IPS 3 SMAN 8 Jalan Iskandar Muda Surabaya mengatakan, ada ponakan sekolah di SMAN 8 Surabaya diminta bayar uang perbaikan sekolah Rp.1,5 juta. "Kalau gak bayar, tidak dapat ikut ulangan," ujar Mujib, kepada BIDIK. Jumat (3/1/2020). Mujib menambahkan, akhirnya terpaksa ortu nya pinjam uang tetangga 500 ribu, agar anaknya bisa ikut ujian. "Kasihan dia sudah tidak punya ayah, ibunya saudara saya, kerja sebagai pembantu rumah tangga. Tolong dibantu mas, agar uang bisa kembali,"ungkapnya. Perihal adanya penarikan uang iuran untuk pembangunan gedung sekolah, dibenarkan oleh Atika Fadhilah siswa kelas XI saat diwawancarai. "Benar, bilangnya wajib Rp 1,5 juta dan waktu terakh...

Komisi B Minta Pemprov serius sosialisasi dana pinjaman untuk pelaku UMKM

SURABAYA ( Media Bidik) - Jatim sangat apresiasi terhadap Pemprov yang mempunyai program membantu pelaku Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM) di Jatim dengan menggelontorkan dana sebesar 400 Miliar di Bank UMKM guna memberikan bantuan kredit lunak kepada para pelaku UMKM di Jatim. Namun Chusainuddin,S.Sos Anggota Komisi B yang menangani tentang Perekonomian menilai Pemerintah provinsi masih kurang serius memberikan sosialisasi kepada masyarakat terutrama pelaku UMKM yang sebenarnya ada dana pinjaman lunak untuk mereka. " Ketika saya menjalankan Reses di Blitar,Kediri dan Tulungagung , banyak masyarakat sana tak mengetahui ada dana pinjaman lunak di Bank UMKM untuk para pelaku UMKM, karena sebenarnya jika Pemprov serius memberikan sosialisasi sampai ke tingkat desa,maka saya yakin masyarakat sangat senang sekali," ucap pria yang akrab dipanggil Gus Udin tersebut. Apalagi menyambut MEA, seharusnya pelaku UMKM sudah mengerti kalau ada dana pinjaman unt...

Oknum Staf Kecamatan Dukuh Pakis Pungli KTP, KK dan Akte Kelahiran Rp 8.2 Juta

SURABAYA (Mediabidik) – Mahalnya biaya untuk pengurusan KTP, KK dan Akte Kelahiran, itulah yang terjadi di kecamatan Dukuh Pakis Surabaya yang dialami oleh Sri Wulansari warga asal Kediri. Hanya ingin pindah tempat menjadi warga Surabaya dia harus mengeluarkan biaya Rp 8.2 juta kepada oknum staf kecamatan Dukuh Pakis yang bernama Sugeng, hanya menulis nama, alamat, tempat tanggal lahir dan nama orang tua di kertas kosong dia sudah mendapatkan KTP dan KSK Surabaya tanpa harus membawa surat pindah tempat dari Dispenduk Capil Kediri. Hal itu disampaikan Andi kerabat dari Sri Wulandari saat ditemui di kantor Humas pemkot Surabaya, Selasa (5/12) mengatakan, hanya dengan menyerahkan nama, tempat tanggal lahir dan orang tua sudah dapat KTP dan KSK Surabaya. "Untuk data cabut bendel dari Dispenduk capil dari Kediri tidak perlu, cukup hanya mengisi data nama, tempat tanggal lahir dan nama orang tua, janjinya seminggu jadi, ternyata sebulan lebih baru jadi. Untuk pembua...