SURABAYAIMediabidik.Com - Di tengah hiruk-pikuk persiapan Hari Jadi Kota Surabaya (HJKS) ke-733, suasana kampung-kampung di Kota Pahlawan justru diwarnai kegelisahan baru. Bukan soal banjir, harga cabai, atau antrean minyak goreng, melainkan beredarnya poster digital bernuansa politik yang menampilkan sosok calon wali kota dan calon wakil wali kota Surabaya periode 2029–2034 (Rini Indriyani dan Fikser). Poster itu menyebar diam-diam melalui grup WhatsApp dan pesan dari nomor tak dikenal, seolah datang tanpa permisi ke ruang privat warga.
Bagi sebagian masyarakat, kemunculan poster tersebut terasa janggal. Waktu pelaksanaan Pilwali masih jauh, namun atmosfer politik seakan dipaksa hadir lebih cepat di tengah kehidupan warga yang sedang berjibaku dengan persoalan ekonomi sehari-hari. Dari warung kopi hingga pos ronda, pembicaraan mengenai poster misterius itu mulai mengalir pelan, lalu berubah menjadi diskusi yang memantik rasa penasaran sekaligus kecemasan.
Rukhayah, warga Simo Gunung Kramat, mengaku awalnya tidak terlalu memedulikan pesan yang muncul di grup WhatsApp RT tempat ia bergabung. Namun percakapan para tetangga membuat dirinya mulai memperhatikan isi poster tersebut.
“Awalnya sih gak begitu ngaruh ya, tetapi saat tetangga belakang rumah saya turut komentar di group, saya jadi tahu pesan itu, lalu saya perhatikan ternyata poster tentang pilwali," ujar Rukhayah, Senin (11/5/2026).
Cerita serupa datang dari Parto, seorang pekerja pabrik di Surabaya Barat. Ia mengaku menerima kiriman poster dari nomor yang tidak dikenal pada malam akhir pekan. Karena khawatir terhadap tautan mencurigakan, ia memilih tidak langsung membuka pesan tersebut.
"Iya pak, saya juga terima postingan itu. Muncul dari nomor tak dikenal, saya gak berani buka. Tapi paginya dapat informasi katanya aman, setelah itu saya cari wifi di warkop seberang kampung, ternyata poster tersebut,”katanya.
Fenomena ini memperlihatkan bagaimana media sosial dan aplikasi percakapan kini menjadi jalur paling cepat membentuk opini publik. Politik tidak lagi hadir melalui baliho besar di jalan raya, melainkan menyelinap lewat layar telepon genggam warga. Dalam situasi tertentu, pola semacam ini dapat memicu spekulasi liar, terutama ketika identitas penyebar pesan tidak jelas dan tujuan kampanye belum terang.
Di sisi lain, sebagian warga berharap suhu politik Surabaya tidak dipanaskan terlalu dini. Mereka khawatir kemunculan kampanye terselubung justru menimbulkan gesekan sosial di tingkat bawah. Perbedaan pilihan politik yang belum waktunya dibicarakan bisa berkembang menjadi perdebatan yang mengganggu kerukunan warga kampung.
Bagi masyarakat kecil, suasana yang tenang dan kondusif jauh lebih penting dibanding riuh manuver politik yang datang terlalu cepat. Apalagi di tengah kondisi ekonomi yang belum sepenuhnya pulih dan harga kebutuhan pokok yang terus merangkak naik. Warga berharap ruang publik Surabaya tetap menjadi tempat yang adem, tempat orang bisa berbicara tentang pekerjaan, sekolah anak, dan dapur rumah tangga, tanpa dibayangi ketegangan politik yang belum pada waktunya.(red)
Comments
Post a Comment