SURABAYAIMediabidik.Com - Program Rusunami (Rumah Susun Sederhana Milik) pemkot Surabaya yang diperuntukkan untuk kaum Gen Z saat ini masih tahap penjajakan Perbankan serta pengosongan lahan, dan sudah ada dua investor yang berminat melaksanakan pembangunan rumah susun 16 lantai tersebut.
"MBR itu apa?, beda dengan MBR yang di kementerian sosial. Kalau di kementerian PKP, MBR itu adalah penghasilan di bawah Rp 8,5 juta untuk single, dan penghasilan Rp 10 juta untuk berkeluarga." ujar Deisy Puspitarini kepada media ini, Jum'at (8/6/2026).
Deisy menerangkan, tapi nanti ini siapa yang berhak membeli rusunami ini!. Yang pertama warga Surabaya, kedua, dia sudah menikah, penghasilannya Rp 10 juta dan kemudian dia harus lolos BI Chek ing. Nah ini progressnya kita sedang mengumpulkan peminat ini siapa saja dan bisa di akses di website omahrakyat.dprkpp.web.id, terus kemudian disitu bisa dilihat harga jual serta tipenya.
"Jadi kita paling murah dengan tipe 21 dengan harga Rp 190 juta, ada tipe 24 dan tipe 36 yang tipe 24 Rp 250 dan 36 sekitar Rp 370 jutaan nanti ada di website semua. Tapi yang paling murah di bawah Rp 200 juta tipe 21. Masing-masing dua kamar semua." terang Deisy Puspitarini.
Kemudian lokasinya, tambah Deisy, ini kita ada dua kan, di Ngagel di eks pabrik karung sama di Tambakwedi dan sudah ada calon investor. Tapi nanti perlu kita share ke calon pembeli atau peminat, bahwa ini nanti sistemnya kayak di apartemen.
"Ini adalah HGB diatas HPL dan ini nanti lahannya milik pemkot dan bangunannya HGB milik investor. Kemudian investor nanti akan mengunakan strata titel. Tapi hanya bangunan saja, dan tanahnya tanah milik pemkot." papar Deisy.
"Dan itu ada jangka waktunya untuk menyewa lahan milik pemkot tadi, adalah 30 tahun, diperpanjang 20 tahun diperpanjang lagi 30 tahun. Jadi totalnya 80 tahun untuk HGB nya, nah itu yang perlu disampaikan ke calon pembeli. Jadi ini lahannya masih tetap lahan pemkot," tambah Deisy.
Dia menjelaskan, ini nanti kenapa tipenya 21, karena kita nanti ada subsidi bunga 5 persen flat. Karena ada syaratnya, bisa dapat program FLPP (fasilitas liquiditas pembiayaan perumahan), nah itu nanti bunganya 5 persen syaratnya dalam satu rusun itu tipe 21, kalau dibawah tipe 21 tidak mendapat fasilitas FLPP.
"Kemudian harga jualnya per meter persegi adalah Rp 11 juta, ini baru bisa masuk FLPP. Untuk angsuran tergantung dari perbankan, kalau di FLPP sendiri cicilannya maksimal 20 tahun. Kemudian bunganya tergantung perbankan bisa 10 persen biasanya kan 20 tapi ini bisa 10 persen. Tergantung perbankan ini masih kita jajaki, kemarin yang sudah kita rangkul adalah bank Mandiri, BTN nanti kita kumpulan perbankan terkait rusunami." jelasnya.
Lanjut Deisy, kemarin baru penjajakan tapi ini nanti akan kita tindaklanjuti, sekarang kita masih menyusun siapa yang berminat untuk menyampaikan juga ke masyarakat, kemudian kita juga mengatur regulasi aturan-aturan lainnya untuk berkoordinasi dengan pusat.
Untuk progressnya saat ini, pembangunan belum ada masih tahap pengosongan dari PTPN targetnya akhir bulan ini kosong. Kemudian kalau untuk investor sudah ada kita menyusun regulasi. Ini grand design juga nanti sistemnya design and build nanti akhir tahun kita bisa beauty kontes.
"Untuk investor sementara ada dua, jadi ada yang berminat tapi masih sonding-sonding. Tapi yang pasti berminat lah nanti kita jajaki lagi karena sistemnya beauty kontes juga." pungkasnya. (red)