Ads (728x90)

SURABAYA (Mediabidik) - Hari ini, Senin (25/11/2019) merupakan batas akhir bagi Rachmat Slamet Santoso alias Memet, terdakwa cabul terhadap 15 siswanya untuk menyatakan banding atas vonis yang dijatuhkan majelis hakim Pengadilan Negeri (PN) Surabaya terhadap dirinya.

Namun kesempatan upaya hukum banding ini, tampaknya tidak dimanfaatkan oleh pria yang berprofesi sebagai guru pramuka tersebut. Oleh majelis hakim, terdakwa diberi tenggat waktu 7 hari untuk menyatakan banding atas vonis yang dibacakan sejak Senin (18/11/2019), sepekan lalu.

Saat dikonfirmasi, Kepala Seksi Pidana Umum (Kasipidum) Kejaksaan Negeri (Kejari) Surabaya, Fariman Isnandi Siregar mengatakan hingga pukul 17.00 WIB pihaknya belum menerima informasi terkait adanya pernyataan upaya hukum banding yang dilakukan oleh terdakwa Rachmat.

"Laporan dari Jaksa Penuntut Umum (JPU), sampai pukul 4 sore dicek di PN, pihak terdakwa (Rachmat) belum ada mengajukan banding," terangnya, Senin (25/11/2019).

Fariman juga menambahkan, berdasarkan ketentuan pasal 234 ayat 1 Kitab Undang-undang Hukum Acara Pidana (KUHAP) jelas disebutkan, apabila dalam 7  hari batas akhir JPU maupun terdakwa tidak (menyatakan) banding, maka vonis yang dijatuhkan dinyatakan telah berkekuatan hukum tetap (inkracht).

Untuk diketahui, atas perbuatannya, terdakwa dijatuhi hukuman 12 bui. Tak hanya itu, oleh majelis hakim yang diketuai Dwi Winarko, pria berusia 30 tahun ini juga dijatuhi hukuman kebiri selama 3 tahun lamanya.

"Bahwa perbuatan terdakwa Rachmat Slamet alias Memet telah meresahkan masyarakat, membuat anak trauma dan takut. Perbuatan terdakwa merusak masa depan anak anak," kata Ketua majelis hakim Dwi membacakan pertimbangan yang memberatkan dalam amar putusannya, Senin (18/11/2019) pekan lalu.

Majelis sependapat dengan penuntut umum dengan menjatuhkan pidana kepada terdakwa sebagaimana diatur dalam Pasal 80 dan Pasal 82 UU RI Nomor 17 Tahun 2016 tentang perubahan kedua atas UU Nomor 23 tahun 2002 tentang perlindungan anak.

"Mengadili,menyatakan terdakwa terbukti secara sah dan meyakinkan bersalah melakukan tindak pidana tipu muslihat kepada anak untuk melakukan perbuatan cabul yang dilakukan tenaga pendidik," kata hakim Dwi.

"Menghukum terdakwa dengan pidana penjara selama 12 tahun, denda Rp 100 juta rupiah subsider 3 bulan penjara dan ditambah dengan tindakan kebiri kimia selama 3 tahun," sambung hakim.

Vonis majelis hakim ini, lebih rendah dari tuntutan Kejati Jatim yang sebelumnya meminta terdakwa Rachmat dihukum 14 tahun penjara, denda Rp 100 juta, subsider 3 bulan kurungan dan kebiri kimia selama 3 tahun.

Seperti diberitakan sebelumnya, kasus ini bermula dari laporan beberapa orang tua korban. Atas laporan itu, Polda Jatim melalui Subdit IV Reknata akhirnya menangkap  Rachmat Slamet Santoso. 

Saat penyidikan, terdakwa Rachmat Slamet Santoso mengaku telah memperdaya para korban sebanyak 15 orang. Mereka rata rata anak didik dari Rachmat Slamet Santoso. 

Aksi bejat itu dilakukan terdakwa  Rachmat Slamet Santoso dengan modus memasukkan siswanya ke dalam tim inti pramuka sekolah. Selanjutnya siswa terpilih diajak ke rumahnya untuk belajar pramuka. Selanjutnya, ia melakukan perbuatan asusila itu dirumahnya.

Dari hasil pemeriksaan, perbuatan terdakwa Rachmat Slamet Santoso ini sudah dilakukan sejak 2015. Ia merupakan pembina ekstra pramuka di enam SMP dan satu SD, baik swasta maupun negeri di Surabaya. eno

Foto: 
Terdakwa Rachmat Slamet Santoso alias Memet, saat jalani sidang vonis yang digelar di PN Surabaya, Senin (18/11/2019) pekan lalu. Henoch Kurniawan

Post a Comment