Ads (728x90)

SURABAYA (Mediabidik) - Aplikasi kesehatan, bagi orang awam ini merupakan hal tabu, terutama bagi generasi X dan Y. Wajar saja banyak masyarakat yang telat mengetahui setiap penyakit yang ada dalam diri. Seperti pengalaman yang dirasakan dr Niko Azhari SpBTKV (K) VE FIHA ketika tau ada salah satu pasiennya datang dengan kondisi penyakit varises yang sudah demikian parah.

Saat itu seorang pasien perempuan berusia 70 tahun asal Jepara datang kepadanya dalam kondisi kaki yang sudah memiliki luka yang tak kunjung sembuh akibat varises stadium 4. Dengan kondisi tersebut, sang pasien harus menjalani operasi laser (EVLA) di RS Universitas Airlangga.

Hal paling utama di rasakan oleh dr Niko adalah sangat di sayangkan sekali, karena pasien sangat terlambat mengetahui penyakitnya, dan ironisnya kejadian seperti ini bukanlah pengalaman pertama pria 39 tahun ini menerima pasien yang terlambat mengetahui penyakit varises yang bisa berpotensi fatal.

"Padahal, kalau penyakitnya diketahui lebih awal, bisa belum harus atau perlu operasi," ujar dr. Niko Azhari Hidayat SpBTKV(K)VE FIHA, Founder Vascular Indonesia.

Pengalaman pribadinya dalam mendapatkan pasien yang di sinyalir terlambat mengidentifikasi penyakitnya, pria yang juga sebagai dosen fakultas kedokteran UNAIR, yang bertugas sehari-hari di RS Universitas Airlangga Surabaya ini merasa bahwa, salah satu terlambatnya identifikasi dini penyakit, yakni akibat masih minimnya akses informasi kesehatan, yang mampu menjadi wadah bagi masyarakat atau  pasien untuk mendapatkan berbagai informasi perihal kesehatan.

Dr. Niko Azhari Hidayat SpBTKV(K)VE FIHA sebagai perintis pioneer penggiat tehnologi kesehatan (Healthtech) di Indonesia, khususnya bagian timur, mengajak seluruh penggiat start up dan aplikasi yang fokus di bidang kesehatan untuk berkolaborasi dalam satu acara Health Apps & Startup Technology Airlangga Generation 1.0(#HASTAG1.0).

"Saya ingin kita bersama2 menyelamatkan lebih banyak orang Indonesia yang menderita penyakit melalui peningkatan digitalisasi kesehatan, dimulai dari Surabaya Jawa Timur". Lewat  aplikasi kesehatan yang terpadu, pasien yang tidak punya waktu untuk berkonsultasi langsung dengan dokter bisa belajar sendiri tentang segala macam hal terkait berbagai penyakit. Saya ingin masyarakat lebih pintar mendeteksi dini penyakitnya," imbuhnya.

Melalui event bernama HASTAG 1.0 yang turut dihadiri dr. Gregorius Bimantoro (PROSEHAT), dr.Rahadian (Brain Tumor Indonesia), dan dr. Irwan (HALODOC). dr Niko selaku penggiat acara ini, yang saat ini sudah memiliki setidaknya 3 Brand : Varises Indonesia, AV Shunt Indonesia & Kaki Diabet Indonesia, sengaja mengajak para professional starup aplikasi kesehatan seperti AloDokter Halodoc, Docquity, Prosehat, Healthtech.id, Klik Hospital, Brain Tumor Indonesia, Support Circle Indonesia, Inmed, Edudok dan masih banyak lagi, untuk mengkolaborasikan keahliannya masing masing dalam mengeplore informasi kesehatan melalu aplikasi yang sangat mudah di jangkau masyarakat, di era digitalisasi.

"Jadi nantinya tak hanya infomasi kesehatan soal varises saja, tapi juga jenis penyakit lainnya, termasuk disitu juga aka nada referensi obat untuk penanganan gejala penyakit yang dialami, karena di aplikasi tersebut juga ada ahli farmasi/ apoteker". ungkapnya.

Diharapkan dalam kegiatan ini bisa berkelanjutan menarik para penggiat start up & app bidang kesehatan untuk bisa berkolaborasi menjadi lebih besar, hal ini mengingat keprihatinan yang tinggi akan pasien2nya yang dirasa masih sangat kurang akses kesehatan, akses informasi yang layak sehingga proses kesembuhan masing dalam rantai yang Panjang, untuk itu dengan Digital Health yang beliau kembangkan melalui aplikasi, diharapkan memutus rantai Panjang pelayanan kesehatan masyarakat di Indonesia, khususnya Jawa Timur. Peran pemerintah propinsi maupun kota tergerak untuk berkenan serta terbuka dalam program Social Impact untuk masyarakat Jawa Timur, agar masyarakat lebih mudah mendapatkan akses dan informasi bidang kesehatan melalui digital, yang juga bisa berkonsultasi secara langsung soal kesehatan ditengah kesibukan masyarakat yang tidak bisa meluangkan waktu untuk berkonsultasi secara gratis. Sukses & lancarnya kegiatan tersebut seiring dengan program Pemerintah dalam Digitalisasi Kesehatan serta memperkuat landasan Smart City yang sekaligus Healthy, Smart & Healthy City usul dr.Niko Azhari juga berharap agar sustainabilitas program dan semangat penggiat healthtech mendapat respon yg positif dari Pemerintah. (pan)

Post a Comment