Ads (728x90)

SURABAYA (Mediabidik) - Jumlah pelajar yang putus sekolah di wilayah Madura ternyata masih sangat tinggi. lebih memprihatinkan, mereka ini putus pendidikan saat masih SMP.
Kenyataan ini dapat anggota DPRD Jatim dari daerah pemilihan (Dapil) XI Syaifiudin Asmoro saat jaring aspirasi masyarakat (Jasmas) di Bangkalan.
       
"Berdasar data yang saya dapat, tahun 2016 tercatat 160 ribu angka putus sekolah (SMP) di Madura dan tak menutup kemungkinan angka tersebut angkat naik, seiring kondisi ekonomi yang masih naik turun," kata Syaifiudin saat ditemui usai reses, Selasa ( 4/4).
      
Anggota Komisi A DPRD Jatim ini menegaskan background pendidikan orang tua dan kondisi ekonomi masyarakat penyumbang tertinggi adanya angka putus sekolah. "Petani di sini sawahnya adalah tadah hujan. Jadi setahun itu hanya panen satu kali. Beda dengan di Jawa yang bisa panen sampe tiga kali setahun," imbuh dia.

Karena itu, pihaknya mendesak agar segera dibangun Balai Latihan Kerja (BLK), khususnya di Bangkalan sebagai akibat angka putus sekolahnya cukup tinggi.
      
"Kami mendesak agar Pemprov bersinergi dengan Pemkab untuk mendirikan BLK di Madura. Balai ini sangat mendesak untuk berdiri agar anak-anak yang putus sekolah memiliki skill untuk masuk dunia kerja. Apalagi tidak menutup kemungkinan sejumlah perusahaan akan masuk di Madura," tegas politisi asal Partai Gerindra Jatim.
       
Dikatakan, industrialisasi akan masuk ke wilayah Madura, sehingga jika masih ada lulusan SMP, maka mereka akan hanya menjadi penonton. "Kami ingin pondok pesantren tidak hanya mengajarkan salaf dan kitab kuning. Namun juga membekali santri dengan soft skill," harap dia.
       
Ditambahkannya, setiap reses, pihaknya selalu turun di pondok pesantren. Ini karena sejumlah ponpes masih mengandalkan lulusannya bisa hafal kitab kuning dan sejenisnya. Padahal di sisi lain, ilmu dunia juga penting untuk mendapatkan pekerjaan dengan layak.
       
"Setiap turun ke dapil saya selalu memanfaatkannya untuk turun ke ponpes. Mengingat sebagian besar ponpes yang ada hanya mengajarkan penguasaan kitab kuning dan sejenisnya. Padahal, ilmu dunia juga penting di dapatkan guna dapat bekerja secara layak. Apalagi tidak menutup kemungkinan para pengusaha masuk ke Madura," tandas dia.(rofik)

Post a Comment