Ads (728x90)


SURABAYA (Mediabidik) – Penayangan perdana film 'Perfect Dream' di Surabaya mampu menyedot animo masyarakat kalangan anak muda hingga dewasa , pasalnya film ini berani tampil beda tidak seperti film biasanya karena dalam film ini banyak mengadopsi budaya lokal dan sosialita di Surabaya.
     
Cerita film garapan sutradara Hestu Saputra tersebut terinspirasi dari cerita nyata kehidupan sosialita dan pengusaha Surabaya. Perfect Dream banyak dimainkan oleh pemain utama seperti Wulan Guritno berperan sebagai Lisa, Ferry Salim berperan sebagai Dibyo, Baim Wong sebagai Bagus, Qomar sebagai Hartono, Olga Lydia sebagai Rina, dan Rara Nawangsih sebagai Annisa.serta Amelia Salim.
    
Semakin menarik ketika film ada sejumlah anggota dan ketua DPRD Jawa Timur yang ikut bermain, yakni dr Benjamin Kristianto, dan Abdul Halim Iskandar. Meski hanya menjadi peran pembantu, legislator tersebut mampu menarik perhatian penonton.
     
Di temui usai Nobar film Perfect Dream wakil rakyat Jatim yang akrab di panggil dr.Ben mengatakan, pesan yang disampaikan lewat film ini adalah seseorang tidak boleh terlalu ambisi dalam berbisnis, karena semuanya ditentukan oleh Tuhan yang maha esa. Dalam berbisnis seseorang harus berpegang pada aturan, kaidah, dan norma-norma kemanusiaan.
      
" Dalam hidup ini jangan terlalu serakah, boleh ambisis tapi tetap dalam konteks koridor dan semua itu ada pertanggung jawaban kepada Tuhan YME , Kalau berbisnis terlalu ambisi itu berbahaya," ujar dr.Ben, usai jumpa pers bersama artis pemain utama, di Marvel City Surabaya.
        
Selain itu, dalam film yang dibuat oleh rumah produksi East Java Film dan Empat Sisi Productions ini juga  menitipkan pesan tenggang rasa. Dimana dalam keluarga Dibyo ada anak lain dengan agama yang berbeda. "Perbedaan keyakinan tidak menjadi hambatan. Bisa menjadi keluarga yang baik,"tuturnya.
       
dr.Ben menambahkan, film tersebut merupakan kado peringatan hari perfilman nasional. Dengan begitu, anak bangsa menunjukkan mampu membuat film yang bermutu, dan bermanfaat untuk masyarakat. "Jangan fokus film luar negeri, hargai film produk dalam negeri agar bisa tunjukkan buat film yang baik," pinta ketua KeSIra Jatim ini.
       
Politisi asal Partai Gerindra ini sangat mengapresiasi film yang diputar di bioskop 30 Maret 2017 tersebut mengadopsi budaya lokal, seperti bonek, dan beberapa tempat di Surabaya," pungkas Anggota Komisi E DPRD Jatim.
     
Sekedar di ketahui dalam film ini menceritakan Awal cerita perjuangan Dibyo memperjuangkan apa yang ingin dicapai. Lalu kemudian setelah dia berhasil mendapatkan Lisa. Dibyo pada akhirnya memiliki harta yang berlimpah dan hal itu masih belum membuatnya puas. Hingga pada suatu saat, ambisinya mengantarkannya pada keinginan untuk menguasai lahan lawan bisnisnya, seorang mafia kelas atas, Hartono. 
       
Uniknya lagi, film yang mengambil lokasi di Surabaya ini menceritakan seorang Lisa yang merupakan seorang sosialita Surabaya menjalani kehidupannya dengan bergelimang harta.
ambisi yang dimiliki Dibyo mengantarkannya pada banyak permasalahan. Dari lawan bisnis hingga masalah keluarganya. Sementara Lisa sebagai seorang istri dihadapkan pada pilihan mengikuti ambisi sang suami atau mempertahankan ketenteraman keluarganya.(rofik)

Post a Comment