Ads (728x90)

SURABAYA (Mediabidik) - Kabar adanya kegiatan arisan para srikandi DPRD kota Surabaya yang bernilai jutaan rupiah, menuai kritikan dari berbagai kalangan. Arisan untuk mengisi waktu luang ini dinilai mencerminkan perilaku yang kurang pantas sebagai anggota dewan, notabene sebagai wakil aspirasi masyarakat bawah.

Pakar Sosiologi dari Unair Surabaya Bagong Suyanto mengatakan, arisan bernilai jutaan rupiah merupakan simbol eksklusif dari para dewan. Padahal, dewan merupakan wakil rakyat dan mendapat kepercayaan untuk memperjuangkan aspirasi masyarakat bawah. 

"Mestinya, sebagai anggota dewan lebih memperbanyak simbol populis, misal kegiatan yang mencerminkan kepedulian terhadap masyarakat," ujarnya, Jumat (3/2).

Dosen FISIP Unair ini mengaku prihatin terhadap kebiasaan tersebut. Sebab, bisa menciderai psikologi masyarakat yang hidup ditengah himpitan ekonomi. Perekonomian warga sedang goyang akibat sembako terus merangkak naik. 

"Saya tidak tahu, apakah lebih banyak kegiatan populis apa yang eksklusif, tapi bagi saya arisan jutaan itu ironis, anggota dewan itu kan representasi masyarakat," tegasnya.

Bagong menegaskan, kegiatan itu mencerminkan gaya hidup dewan yang bisa membuat jarak dengan masyarakat. Tak salah ketika masyarakat semakin hari minim kepercayaan terhadap politisi yang duduk enak di lembaga dewan perwakilan rakyat (DPR).

Sementara, Direktur Parlemen Watch Jatim, Umar Sholahudin mengatakan sangat prihatin karena kegiatan seperti ini dilakukan oleh anggota dewan untuk mengisi waktu luang. Apalagi kegiatan dilakukan di dalam ruang komisi gedung DPRD Surabaya.

Kegiatan seperti iitu menurutnya sebagai bentuk gaya hidup kemewahan ditengah naiknya harga kebutuhan pokok yang dialami oleh rakyat. "Kalau ikut arisan itu hak pribadi, tapi dari segi kepatutan sangat prihatin karena diketahui publik. Secara pribadi saya kecewa karena kegiatan seperti ini mestinya dihindari, harus berkaca lah pantas atau tidak," kata Umar.

Karena itu pihaknya meminta kepada perangkat dewan dalam hal ini Badan Kehormatan (BK) untuk melakukan langkah klarifikasi karena masuk sebagai pelanggaran. Artinya kegiatan ini akan menjadi citra buruk kinerja wakil rakyat yang digaji dan mendapat fasilitas dari dana APBD.

"Kan masih banyak kegiatan berguna untuk mengisi waktu luang sebagai anggota dewan. Ini akan menimbulkan sinisme oleh masyarakat mengingat dilakukan wakil rakyat," tambahnya.

Diketahui, arisan yang diikuti oleh srikandi dewan ini diikuti oleh 17 orang. Nominal yang dikeluarkan untuk satu orang Rp 1 juta. Jadi total setiap bulan sekali ada Rp 17 juta yang dikantongi oleh pemenang arisan. 

Untuk bulan ini, arisan dilakukan pada Kamis (2/2) di ruang Komisi A DPRD Surabaya. Sebagai pemenang adalah Wakil Ketua DPRD Surabaya dari Partai Demokrat, Ratih Retnowati.(pan)

Post a Comment