Ads (728x90)


SURABAYA (Mediabidik) - Hari ke empat dari tujuh hari yang direncakan, acara 'Mimbar Untuk Rakyat' yang digelar DPC PDIP Surabaya di jalan Kapuas terkesan lebih teduh karena dihadiri oleh tiga ulama kondang asal Surabaya.

Tiga Ulama ini adalah Gus Fami pengasuh pondok pesantren di kawasan Bubutan Surabaya, Habib Abu Bakar dewan syuriah Nahdhatul Ulama (NU) Kota Surabaya dan Ustad Aris Yoyok yang mendapat giliran terakhir dalam acara tauziah. Hadir pula tiga pengurus inti DPC PDIP Surabaya yakni Whisnu Sakti Buana, Saifudin Zuhri dan Budi Leksono.  

Dalam ceramahnya, Gus Fahmi meenjelaskan bahwa agama Islam melarang adanya doktrin-doktrin yang mengandung kekerasan, apalagi yang menjurus kepada upaya perpecahan bangsa, karena hal itu juga menjadi larangan pemerintah.

"Doktrin-doktrin kekerasan di republik ini tidak boleh, dan di agama Islam juga dilarang, apalagi yang menimbulkan perpecahan bangsa," ucapnya dihadapan pastisipan dan kader PDIP di jalan Kapuas Surabaya, Rabu (25/1/2017)

Gus Fahmi juga menceritakan protesnya terhadap kelompok yang memberikan tudingan negatif terhadap PDIP di berbagai medsos bahwa PDIP beranggotakan orang-orang kafir dan PKI, karena dirinya mengetahui betul jika tuduhan itu tidak benar, seraya mengajak seluruh kader PDIP untuk membuktikan dengan menggelar acara Istigozah di kantor DPC PDIP Surabaya.

"Kalau ada yang bilang PDIP tempatnya PKI dan orang kafir, kita tunjukkan besok dengan kegiatan istigozah, biar mata mereka terbuka, dan terbukti jika tudingannya selama ini tidak benar," tandasnya.

Tidak hanya itu, ulama berambut panjang ini juga mengatakan bahwa agama Islam mengajarkan cinta dan kasih sayang tidak hanya kepada manusia, tetapi juga kepada seluruh makkhuk hidup ciptaan Tuhan, termasuk binatang sekalipun.

"Cinta kasih dan sayang itu harus dilakukan oleh siapapun dan kepada siapapun, bahkan kepada binatang sekalipun, maka jangan pernah tebarkan penghinaan apalagi melakukan hasutan soal kebencian yang akhirnya menimbulkan perpecahan," ujarnya.

Menurutnya, pepatah 'bersatu kita teguh bercerai kita runtuh' itu benar adanya, maka Gus Fahmi mengajak kepada seluruh yang hadir untuk tetap menjaga persatuan dan kesatuan dalam berbangsa dan bernegara.

"Ada pepatah bersatu kita teguh bercerai kita runtuh, itu sangat benar, maka jaga persatuan dan kesatuan," pungkasnya seraya mengakhiri ceramahnya dengan takbir khas Suroboyo "Allhuakbar Merdeka".

Sementara Habib Abu Bakar yang mendapat giliran kedua mengatakan, dakwah itu mengajak bukan mengejek, membina bukan menghina, mengobati bukan menyakiti, kalau ada yang seperti itu berati keluar dari pedoman agama Islam yakni Al Quran dan Hadist,"

"Ajaklah orang memeluk agama Islam itu dengan bahasa yang santun, bukan dengan cara cara yang kasar, karena itu bukan umat Nabi Muhammad, itu pasti," tegasnya.

Tidak hanya itu, Habib Abu Bakar juga menegaskan, siar agama Islam yang dilakukan para Wali dengan perkataan yang santun, sehingga pemeluk agama Islam di negeri ini bisa menjadi besar jumlahnya.

"Wali Songo itu menggunakan siar agama Islam dengan memakai wayang sebagai sarananya, bahasanya juga santun, maka jika dianggap salah oleh Islam, tentu tidak akan dilakukan, dan jumlah umat Islam di negeri ini tidak akan seperti sekarang, lantas apanya yang salah soal budaya jawa wayang itu, lha wong justru membantu siar agama Islam," terangnya.

Diakhir ceramahnya, Habib Abu Bakar memberikan pesan, kalau ada yang melakukan siar agama keluar dari konteks yang saya sampaikan sebelumknya, itu adalah orang yang hanya mengambil keuntungan dari Islam, dan justru berniat mengobrak abrik agama Islam.

Sementara Ustad Aris Yoyok yang tampil belakangan, lebih bersifat menghibur dengan kalimat guyonan khas Suroboyoannya, sehingga hadirin yang hadir dibuatnya terpingkal-pingkal. Penampilan Ustad yang lucu ini memang selalu ditunggu-tunggu, karena sangat dikenal mampu menciptakan guyonan yang dikaitkan dengan isu-isu kekinian.

Terpisah, Saifudin Zuhri Skretaris DPC PDIP Surabaya yang juga bertindak sebagai ketua penyelenggara acara mengatakan bahwa untuk hari ke lima (besok-red), pihaknya akan menggelar acara 'Doa Untuk Negeri'.

"Besok hari kelima, kami akan menggelar acara doa untuk negeri yang digelar dengan kegiatan istigosah dan bersholawat, yang dipimpin oleh para Ulama, tentu saja para Ulama yang masih mencintai persatuan dan kesatuan, NKRI, Pancasila, UUD'45 dan Kebhinnekaannya," paparnya. (pan)

Post a Comment