Ads (728x90)


SURABAYA (Mediabidik) - Pemulihan ekonomi global masih terasa lemah dan ketidakpastian di pasar keuangan global mengemuka, perekonomian nasional dapat tetap tumbuh disertai dengan stabilitas makro ekonomi yang terjaga. perekonomian Indonesia mampu tumbuh 5,02 persen (yoy) di Triwulan III-2016.

Angka ini merupakan catatan yang impresif dibanding banyak negara berkembang di kawasan yang masih berjuang untuk dapat menjaga momentum pertumbuhannya. Hal ini disampaikan Gubernur Bank Indonesia (BI), Agus D.W Martowardojo, Rabu (11/1/2017), usai sertijab Kepala Perwakilan BI Jatim.

Sertijab ini merupakan peralihan pemimpin Kantor Perwakilan BI Jatim, dari Benny Siswanto kepada Difi Ahmad Johansyah disaksikan langsung Gubernur Jatim, Soekarwo.

Catatan impresif ini mampu diraih bersamaan dengan inflasi yang rendah dan terkendali. Inflasi secara keseluruhan 2016, sebut Agus, tercatat 3,02 persen (yoy). "Kami berbesar hati bahwa capaian ini berada dalam kisaran sasaran inflasi yang ditetapkan sebesar 4±1 persen (yoy) dan lebih rendah dari capaian di tahun 2015," ujarnya.

Disamping itu, nilai tukar Rupiah di sepanjang 2016 tercatat relatif stabil dan menguat 2,34 persen terhadap USD. Hal ini menjadikan Rupiah sebagai mata uang dengan kinerja terbaik kedua di Asia, setelah Yen Jepang. Lebih lanjut, defisit transaksi berjalan serta defisit APBN 2016 juga berada dalam level yang sehat.

Stabilitas ekonomi yang terjaga dan risiko ekonomi yang terkendali, lanjut Agus, pada gilirannya memberikan ruang bagi BI untuk menjaga momentum pertumbuhan dan mendorong perbaikan permintaan domestik. Ia menyebut sepanjang 2016, BI telah melonggarkan kebijakan moneter melalui penurunan suku bunga acuan sebanyak 6 kali, dan menurunkan Giro Wajib Minimum sampai dengan 150 bps. Sebagai bagian dari bauran kebijakan yang ditempuh, BI juga melakukan penyesuaian kebijakan makro prudensial.

"Kami juga menyambut baik kolaborasi yang terus dibangun dalam upaya pengendalian inflasi Jatim, yang berhasil mencatat inflasi 2016 lebih rendah dari tingkat inflasi nasional, sebesar 2,74 persen (yoy). Kami mencermati Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) di Jatim telah berperan penting dalam mitigasi potensi risiko inflasi dari hari ke hari," paparnya.

Sementara, Pemimpin BI Perwakilan Jatim yang baru, Difi Ahmad Johansyah mengatakan, siap menggandeng Jatim. Difi yang sebelumnya menjabat sebagai Kepala BI Perwakilan Sumatera Utara itu mengaku akan meningkatkan koordinasi dan komunikasi untuk terus bersinergi mengawal pergerakan inflasi serta meningkatkan pertumbuhan ekonomi di Jatim.

"Saya akan meneruskan kinerja positif yang telah dilakukan pimpinan sebelumnya, dan terus mendorong pengembangan ekonomi, agar bisa meningkatkan stabilitas sistem keuangan perbankan Jatim," tambahnya.

Pasca 2 tahun memimpin BI Jatim, Benny Siswanto diberikan mandat untuk menjadi Kepala Departemen Regional I yang membawahi Kantor Perwakilan BI di wilayah Sumatera. (haria)

Teks Foto : Acara sertijab, dari Pimpinan BI Jatim sebelumnya, Benny Siswanto kepada penggantinya Difi Ahmad Johansyah, di Kantor BI Jatim, Rabu (11/1/2017). (Foto : Istimewa)

Post a Comment