Ads (728x90)

SURABAYA (Mediabidik) - Mengangkat tema pitungan dan variasi kelahiran anak pertama pada ednis jawa, mengantar Dr Lucy Dyah Hendrawati S.sos M Kes meraih gelar Doktor dalam program study ilmu kedokteran jenjang doktor fakultas kedokteran Universitas Airlangga.
      
Dikatakan Lucy, keinginan mengangkat primbon Jawa sebagai bahan desertasi doctornya, karena keresahan dirinya terhadap kelangsungan budaya jawa yang sudah ada ribuan tahun lalu menjadi salah satu pedoman masyarakat Jawa.
      
"Karena keresahan saya, melihat budaya yang dianggap kuno tersebut ditinggalkan sebagaian besar masyarakat Jawa," terang Lucy sapaan akrab Dr Lucy Dyah Hendrawati S.sos M Kes.
      
Menurut istri anggota Komisi II DPR RI Fandi Utomo, menjelaskan adanya hubungan antara manusia dengan lingkungan hidup menjadi kebutuhan hubungan timbal balik. "Sebab perubahan pada lingkungan pada akhirnya akan mempengaruhi manusia itu sendiri," terang dia.
      
Rasa khawatir dirinya terhadap kebudayaan jawa yang mulai luntur ini, membuat ibu tiga anak tersebut melakukan kajian budaya Jawa kuno dalam hidup kekinian.

Masih kuatnya sebagian masyarakat memegang teguh budaya jawa ini, ditunjukkan dengan melakukan nikah ulang, agar ada perubahan hidup yang lebih baik.
      
"Ada upaya melakukan pendekatan dengan menikah ulang, karena mereka beralasan ada hitungan primbon yang keliru. Karena adanya rasa khawatir. Setelah itu,  masyarakat yang memegang teguh budaya jawa ini, berharap menjadi baik," urai dia.
       
Dari data yang didapat Dr Lucy, menyebutkan sebanyak 793 pasangan di wilayah Blitar dan 654 pasangan di Kota Surabaya masih percaya akan hitungan primbon jawa. "Karena memang kedua wilayah ini, merupakan daerah agraris," tegas dia.
       
Lunturnya nilai-nilai sopan santun sesuai adat jawa, juga menjadi salah satu alasan Dr Lucy mengangkat ke desertasinya. "Bahwa budaya ini, mempengaruhi perkembangan seseorang. Sebab budaya akan mempengaruhi tingkah laku dan pengaruh pada kesehatan seseorang," tandas dia.
        
Sehingga masih ada banyak masyarakat percaya, belum hadirnya keturunan, karena mereka tidak menjalankan petuah dari budaya, termasuk tidak taatnya terhadap nasehat orang tua. "Primbon ini sudah ada ratusan atau ribuan tahun lalu, sehingga tingkat kepercayaan masyarakat terhadap petuah primbon masih subur di tanah jawa," tegas dia. (rofik)
 

Post a Comment