Ads (728x90)

Anggota Komisi E DPRD Jatim Dr. Benjamin Kristianto,MarsSURABAYA (Media Bidik) – Menurunnya nilai hasil Ujian Nasional Berbasis Komputer (UNBK) baik tingkat  SMP maupun SMA, diharapkan menjadi bahan evaluasi bagi dunia pendidikan di Jawa Timur, pasalnya sejak berlakunya kurikulum K13 yang setiap tahun berganti kurikulum membuat banyak siswa yang kurang menguasai kurikulun yang ada, belum lagi ujian nasional yang memakai berbasis komputer.

Hal itu disampaikan Anggota Komisi E DPRD Jatim Dr. Benjamin Kristianto,Mars mengatakan seharusnya Pemerintah tidak terburu-buru mengeluarkan kurikulum yang setiap tahun berubah, hal ini disamping memakan anggaran banyak, para pelajar juga kurang bisa menguasai materi  pelajaran yang ada di kurikulum tersebut.

" Kita lihat saja ketika kurikulum memakai KTSP yang notabene kurikulum tersebut bisa dipakai hingga 6 tahun, hasil Ujian Nasional selalu diraih  siswa dengan hasil yang memuaskan," terang dr.Beny saat ditemui diruang kerjanya.
      
Belum lagi  rencana Pemerintah yang juga akan menerapkan Ujian tingkat SD juga menggunakan ujian berbasis komputer, dan ini akan membebankan  peserta Unas."Jangan terburu-buru melanjutkan UNBK untuk tingkat SD. Kita harus evaluasi dulu pelaksanaan UNBK SMP maupun SMA/SMK tahun ini. Banyak hal yang harus dibenahi. Jangan menambah beban lagi pada siswa," tegas Politisi asal Partai Gerindra Jatim.

Mantan Direktur Rumah Sakit ternama di Surabaya ini juga mendesak  pihak-pihak terkait harus menuntaskan persoalan-persoalan yang mengganjal pelaksanaan UNBK SMP dan SMA/SMK. Sebab diantara persoalan itu adalah ketersediaan komputer di setiap sekolah yang sebenarnya belum mencukupi.

Sedangkan terkait nilai yang jeblok, Benjamin menekankan,bahwa salah satunya karena kurikulum yang digunakan selama ini tidak pernah baku. Setiap tahun kurikulum berganti, ini bisa menjadi pemicu turunnya nilai UNBK.

"Kalau membuat kurikulum itu yang baku. Jangan karena ganti Menteri terus ganti kurikulum. Seperti saat ini antara K13 (kurikulum 2013 dan KTSP (Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan) 2006. Ini saja masih belum menyeluruh. Buat kurikulum itu yang jangka panjang," pinta Benjamin.

Maka itu Komisi E DPRD Jatim yang membidangi Pendidikan mendesak supaya  metode pendidikan harus dibuat standar baku tanpa memandang siapa menterinya. Karena pergantian kurikulum itu tidak hanya membingungkan siswa, tapi juga para guru.(rofik)

Post a Comment