Ads (728x90)


SURABAYA ( Media Bidik) - Semakin menyusutnya lahan pertanian dikota Surabaya mendapat perhatian Dinas Pertanian kota Surabaya. Pasalnya dalam 4 tahun terakhir ini terjadi penyusutan hingga 300 hektar. Dikhawatirkan 20 tahun ke depan, sudah tidak ada lagi areal pertanian di kota Pahlawan.

Hal tersebut diungkapkan Kepala Dinas Pertanian kota Surabaya Justamadji " Sekarang ini areal pertanian   tinggal 1.400 hektar. Dan setiap tahun terjadi  penyusutan  75 hektar. Jika tidak dipertahankan, maka  15 hingga 20 tahun ke depan, bakal habis," ungkapnya, Jumat (15/1).

Ironisnya, sebagian lahan yang masih tersisa sekarang ini sudah dikuasai pengembang. Berhubung belum dibangun oleh pengembang, kata dia, maka lahan pertanian tersebut masih bisa dimanfaatkan warga sekitar untuk ditanami berbagai tanaman, dari padi hingga holtikutura. Apalagi  kondisi di lapangan, saluran irigasi teknis sudah tidak ada. Kebanyakan  sawah yang tersebar di sebagian  Surabaya Timur, Surabaya Barat dan Selatan kebanyakan adalah tadah hujan.

Untuk mempertahankan luasan yang masih tersisa, pihaknya sedang melakukan pengkajian.  Tujuannya jika dimungkinkan ada payung hukum  untuk mempertahankan areal pertanian di tengah gencarnya pembangunan pemukiman dan  sentra niaga yang terus menggerus luasaan lahan pertanian."Sayangnya dalam RTRW 2014, dikatakan areal pertanian pangan berkelanjutan adalah nol. Makanya kami akan koordinasi dengan Bappeko untuk bisa mencari celah agar nantinya dibuatkan raperda agar areal pertanian yang masih tersisa itu bisa dipertahankan," jelasnya.

Meski dengan luasan yang tak seberapa, ia menambahkan musim tanam 2016 ini, pihaknya mematok 1.900 hektar. Artinya, petani bisa menanam lahan pertaniannya  ada yang  satu kali hingga 3 kali pertanian. Sedangkan produksi padi sebanyak 9000 ton pertahun."Jika melihat dari jumlah produksi, tentu tidak seimbang dengan jumlah penduduk Surabaya yang mencapai  hampir 3 juta. Makanya beras  banyak dipasok dari luar daerah," imbuhnya.

Sementara itu lahan pertanian di Surabaya  sudah banyak terhimpit dengan banyaknya pemukiman dan sentra niaga. Di kawasan Ketintang,  sawah di sana banyak yang dibebaskan untuk  perumahan mewah. Tidak heran,  sawah sekarang ini dikepung  perumahan. Kondisi yang sama terjadi di Kecamatan Lakarsantri dan Kecamatan Sambikerep. Sawah dan ladang yang produktif tersebut sekarang berdiri kompleks perumahan mewah milik PT Ciputra. Bahkan sebagian tanah produktif tersebut sudah dikuasai pengembang. Karena  masih ada yang belum dibangun, warga di sana akhirnya memanfaatkan untuk ditanami holtikultura. (pan)

Post a Comment