Ads (728x90)

SURABAYA(Media Bidik) - Pemerintah Kota (Pemkot) Surabaya memiliki perhatian besar terhadap siswa-siswi se-Surabaya yang memiliki bakat dan minat pada teknologi informasi komunikasi (TIK). Ribuan pelajar tersebut dikumpulkan di acara workshop pesta kreatif TIK Semanggi Surabaya sekaligus launching program inkubasi di Graha Sawunggaling, lantai VI kantor Pemkot Surabaya, Selasa (5/5/2015).

Kepala Dinas Komunikasi dan Informatika (Kominfo) Kota Surabaya, Antiek Sugiharti mengatakan, kegiatan ini merupakan rangkaian peringatan Hari Jadi Kota Surabaya (HJKS) ke-722 sekaligus mempersiapkan pelajar dalam menyambut datangnya era Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA), utamanya di bidang TIK. 

Ada lebih dari 1.000 pelajar SMA/SMK yang berkesempatan mengikuti workshop pesta kreatif TIK tersebut. Mereka mendapatkan wawasan tentang animasi, editing audio dan video, programmer, dan juga bisnis online melalui media sosial. Termasuk juga gambaran peluang yang bisa diambil dari TIK.

"Ini untuk menambah wawasan siswa-siswi Surabaya agar bisa memanfaatkan teknologi informasi dengan baik, benar dan sehat. Kita juga mendorong minat dan bakat pelajar di bidang TIK. Ternyata banyak anak punya kemampuan TIK tapi belum tersalurkan, karena itu kita beri ruang agar mereka memanfaatkan peluang itu," tegas Antiek.

Dijelaskan Antiek, selain workshop, Dinas Kominfo Kota Surabaya juga menggulirkan program inkubasi yang bekerja sama dengan perguruan tinggi di Surabaya. Peserta program ini ditunjuk oleh pihak sekolah dengan pertimbangan yang bersangkutan punya ketertarikan di bidang TIK dan juga berasal dari keluarga kurang mampu. Ada 214 pelajar yang mengikuti program ini. Selama periode Mei hingga Agustus, mereka akan belajar tentang TIK di beberapa kampus seperti Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Surabaya, Universitas Surabaya (Ubaya), Universitas Kristen Petra (UK Petra), Universitas Narotama dan Universitas Ciputra. Materi yang diberikan di program inkubasi ini beragam, disesuaikan dengan keunggulan masing-masing Universitas. Semisal Universitas Ciputra fokus untuk bisnis online dan pengembangan media informasi. Lalu di ITS diarahkan ke game animasi. 

"Selama ini ada banyak pelajar terampil di bidang TIK, tapi ketika lulus mereka belum jadi expert. Karena itu, kita berikan kesempatan untuk belajar di perguruan tinggi yang punya lab TIK dan dosen ahli TIK agar mereka diperdalam ke profesional. Mereka diharapkan jadi expert dan jadi wirausaha bidang TIK. Nanti kita bantu berhubungan dengan pengusaha TIK agar kemampuan mereka itu bisa menghasilkan," sambung mantan Kepala Bapemas KB ini.

Walikota Surabaya, Tri Rismaharini dalam sambutannya ketika membuka acara menyampaikan, dunia teknologi informasi itu merupakan dunia masa depan. Maknanya, bila tidak menguasai perkembangan TIK, seseorang akan tertinggal. Karenanya, walikota berharap acara tersebut bisa dimanfaatkan sebaik mungkin untuk menimba ilmu. "Kesempatan ini jangan kalian sia-siakan. Belajar bisa di mana saja. Kalian harus bersyukur karena mendapat fasilitas ini. Ambil kesempatan ini. Kalau mau berhasil, mulai lah dari sekarang, tidak ada kata nanti," ujar walikota, memotivasi siswa-siswi.

Walikota yang masuk dalam 50 besar tokoh berpengaruh dunia 2015 versi majalah Fortune ini mengimbau pelajar di Surabaya untuk membuang jauh perasaan minder dan malu. Sebab, minder hanya akan menjauhkan diri dari sukses. Apalagi, pelajar di Surabaya kini tidak perlu bersusah payah untuk bisa mengakses TIK. Dalam hal perkembangan TIK, Surabaya tidak kalah dengan Singapura dan Hongkong.
"Kenapa harus minder?  Ambil kesempatan. Pemkot Surabaya sudah menyiapkan BLC (Broadband Learning Center) sejak tahun 2010. Lokasinya juga tidak jauh. Jadi tidak ada alasan untuk tidak bisa, tidak ada alasan jauh, apalagi malu," sambung walikota.

Meski mendorong siswa-siswi di Surabaya untuk menguasai TIK, walikota Risma -panggilan Tri Rismaharini-, juga mengingatkan dampak bahaya TIK bila salah dalam penggunaannya. "TIK akan menjadi bumerang bila kalian salah menggunakan. Kalian bisa jadi korban perkembangan TIK. Tapi bila berhasil, kalian bisa kaya mulai sekarang," jelas walikota perempuan pertama dalam sejarah pemerintahan Surabaya ini.

Apa yang disampaikan Risma itu benar adanya. Beberapa pelajar yang mengikuti kegiatan workshop tersebut, telah merasakan dampak positif dari TIK. Beberapa dari mereka  telah mampu menjadikan sosial media sebagai alat efektif untuk berjualan. Dari hasil jualan online tersebut, mereka bisa menghidupi diri mereka dan membantu keluarga. "Selama ini saya jualan donut vegetarian. Jualnya lewat Facebook dan Line. Alhamdulillah hasilnya lumayan. Sudah bisa beli handphone dan bantu orang tua," ujar Bunga, siswi SMA Wachid Hasyim II Surabaya.(pan)