Ads (728x90)


SURABAYA(Media Bidik) – Pemerintah Kota (Pemkot) Surabaya tiap tahun terus menambah jumlah sentra Pedagang Kaki Lima (PKL). Tahun ini, setidaknya ada delapan sentra PKL yang hendak dibangun dengan alokasi anggaran sebesar Rp8 miliar. Namun, penambahan jumlah sentra PKL ini oleh DPRD Kota Surabaya dinilai sebagai langkah keliru.

Anggota Komisi C DPRD Kota Surabaya, M Machmud mengatakan, saat ini Pemkot sangat gencar membangun sentra PKL. Hampir tiap sudut kota, bisa saja dibangun sentra yang khusus menampung pelaku usaha mikro ini. Tapi, dia menilai, Pemkot lalai dalam meningkatkan dan mengoptimalkan sentra PKL yang sudah ada. "Selama ini kan Pemkot mengklaim telah berhasil memberdayakan PKL. Indikatornya, mereka banyak membangun sentra PKL. Tapi mana sentra PKL yang  bisa berkembang dengan baik. Banyak sentra PKL yang sudah dibangun itu mati suri," katanya.

Politikus dari Partai Demokrat ini meminta pada Pemkot Surabaya agar tidak hanya fokus pada penambahan jumlah sentra PKL. Menurut dia, yang paling mendesak saat ini adalah optimalisasi sentra PKL yang sudah ada. Misalnya, sentra PKL yang mati suri itu harus dihidupkan lagi. "Kalau cuma membangun sentra PKL dan tidak terurus itu kan sama saja dengan membuang anggaran. Percuma anggaran besar tapi ternyata sentra PKL-nya tidak hidup. Ini harus menjadi perhatian serius dari Pemkot. Jangan hanya bicara penyerapan anggaran saja," paparnya.

Diketahui, data dari Dinas Koperasi dan UMKM Kota Surabaya mencatat, terdapat tujuh dari 50  sentra PKL  yang terancam gulung tikar. Hal ini disebabkan jumlah pedagang yang berjualan di sentra PKL tersebut terus menyusut. Begitu pula dengan kunjungan konsumen yang tiap tahun terus berkurang. Tujuh sentra PKL yang dalam keadaan 'sekarat' itu diantaranya, Sumberejo, Kandangan, Lidah Wetan, Pakal, Sememi. Kelimanya berada di Surabaya barat. Sisanya dua sentra PKL lagi adalah di Jalan Urip Sumoharjo dan Ampel. Rata-rata, sentra PKL ini menyediakan sebanyak 40 stan. Tapi ternyata, dari jumlah stan itu, yang terisi hanya sekitar 10 hingga 15 stan saja. "Saya tetap diminta untuk terus membangun sentra PKL. Tinggal mencari lokasi yang strategis," kata Kepala Dinas Koperasi dan UMKM Kota Surabaya, Hadi Mulyono.

Terkait sentra PKL yang sepi pengunjung ini, pihaknya akan terus melakukan pembinaan. Hasilnya, saat ini sudah ada tiga sentra PKL yakni di Lidah wetan, Kandangan dan Sememi yang sudah mulai ramai. Dalam pembinaan ini, pihaknya mengumpulkan tokoh masyarakat, LKMK, RT dan RW serta para pedagangnya untuk menyamakan persepsi. Menyamakan persepsi tentang pemberdaaan ekonomi dan teknis berdagang supaya laris. Pelayanan yang baik pada pembeli misalnya keamanan parkir. Jangan sampai pembeli tidak tenang saat makan karena kuatir kendaraannya tak aman. "Untuk omset sentra PKL, yang paling tinggi diantaranya di Taman Bungkul, Gayungan (masjid Al Akbar), Taman Prestasi, Indrapura, Wiyung, Ketabangkali, Karah dan Manukan. Omzet PKL bisa mencapai Rp30 juta perhari," ujar Hadi.(pan)