Ads (728x90)

SURABAYA(Media Bidik) - Penataan konektivitas transportasi membutuhkan pengertian dan pemahaman bersama antar stake holder. Tidak bisa hanya mengedepankan satu pihak, tetapi harus dipikirkan bersama. Karenanya, penting bagi pihak-pihak yang terlibat dalam penataan transportasi untuk menahan egonya.

Penegasan tersebut disampaikan Walikota Tri Rismaharini ketika memberikan sambutan di acara 29-th ASEAN Transport Facilitation Working Group (TFWG) and 5-th Expert Group Meeting on Cross Border Transport of Passengers (CBTP) di Hotel Pullman, Surabaya, Rabu (22/4).

Agenda yang khusus membahas road map transportasi di ASEAN tersebut dihadiri delegasi dari negara-negara ASEAN seperti Indonesia, Singapura, Malaysia, Brunei Darussalam, Thailand, Filipina, Vietnam, Kamboja dan Myanmar. Ada juga delegasi dari Jepang.

Dikatakan walikota, meski tidak ada kaitannya langsung dengan Surabaya dalam artian Surabaya hanya menjadi "tuan rumah", tetapi agenda tahunan tersebut memberikan banyak pelajaran kepada Pemerintah Kota Surabaya yang tahun ini berencana memulai pembangunan transportasi massal jenis trem. "Dengan adanya agenda ini, kami bisa belajar dari negara-negara ASEAN dalam upaya memecahkan masalah sistem tranportasi antar negara," ujarnya.

Poin penting yang bisa diambil dari agenda ini adalah pentingnya koordinasi dan komunikasi dalam penataan sistem tranportasi. Walikota mencontohkan, untuk pembangunan trem di Kota Pahlawan, Pemkot Surabaya harus berkoordinasi dengan pemerintah pusat dan pemerintah provinsi. Termasuk juga kementerian (departemen) perhubungan, keuangan dan juga Bappenas.

"Bayangkan, kita ngomong antar departemen saja susah, ini ngomongnya transportasi antar negara, tentunya lebih sulit lagi. Tetapi memang transportasi dibutuhkan.  Dan untuk membangun sistem transportasi yang baik, harus ada komunikasi yang baik antar semua stake holder. Kita memang harus bisa tekan ego masing-masing, dibutuhkan rasa legowo untuk memberi dan menerima karena masyarakat sudah menunggu. Sebab, kalau mau ekomoni tumbuh, harus disupport transportasi yang baik," tegas Risma.

Walikota pemegang gelar Doktor Kehormatan (Honoris Causa) dalam bidang Manajemen pembangunan Kota dari Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Surabaya ini juga menekankan bahwa dalam penerapan sistem tranportasi, juga perlu diperhatikan bahwa setiap kota memiliki karakteristik yang berbeda dan juga jumlah penduduk yang berbeda.

"Sistem perencanaan wilayah kota juga harus disesuaikan. Misalnya di Surabaya, nggak bisa direncanakan hanya satu koridor, tetapi harus dipikirkan akses transportasi keseluruhan. Sebab, kalau sulit dapat akses, orang akan kembali ke angkutan pribadi. Konektivitas itu sangat perlu karena sangat menentukan cost yang kita bayar," jelasnya.

Sementara Sekretaris Jenderal Kementerian Perhubungan, Santoso Edy Wibowo dalam sambutannya menegaskan, agenda tahunan ini digelar untuk memfasilitasi isu transportasi yang berkembang di negara-negara ASEAN. Tahun sebelumnya, agenda serupa digelar di Medan.

Dikatakan Santoso, strategi transportasi sebagai penghubung negara-negara ASEAN menjadi pekerjaan rumah (PR) yang perlu segera diwujudkan jelang diberlakukannya era Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA). "Karena siap atau tidak siap, kita harus jadi komunitas. Kita masih punya PR dan kita semua butuh kerja keras untuk mencapai tujuan itu. Saya yakin, partisipasi aktif Anda akan membuahkan hasil untuk mendukung transportasi di region kita," terang Santoso yang kemudian memukul gong tanda dimulainya agenda tersebut.(Topan)