Ads (728x90)

SURABAYA(Media Bidik) - Tujuh duta besar (dubes) asal Eropa untuk Indonesia berkunjung ke Surabaya sebagai rangkaian roadshow di beberapa kota. Tak ingin menyia-nyiakan momentum, para dubes tersebut mengundang Walikota Surabaya Tri Rismaharini guna berdiskusi lebih dalam terkait perkembangan Kota Pahlawan.
Pertemuan yang digelar di Hotel Majapahit pada Jumat (13/2) itu dihadiri dubes Republik Ceko Tomas Smetanka, dubes Irlandia Kyle O'Sullivan, dubes Belgia Patrick Hermann dan dubes Austria Andreas Karabaczek. Selain itu juga dubes Polandia Tadeusz Szumowski, dubes Uni Eropa Olof Skoog serta utusan diplomatik Swedia Eddy Fonyodi.

"Kedatangan kami ke sini (Surabaya) mengemban misi penjajagan kemungkinan mempererat hubungan kerjasama antara Kota Surabaya dengan kota-kota di kawasan Uni Eropa," kata Olof Skoog.

Menurut dia, Indonesia merupakan partner strategis bagi Uni Eropa dan Surabaya termasuk kota yang perkembangannya paling pesat. Hal ini dapat dilihat dari banyaknya penghargaan dari dunia internasional kepada ibu kota provinsi Jawa Timur.

"Dan kami semua sangat beruntung bisa bertatap muka dengan Walikota Surabaya. Oleh karenanya, kesempatan ini tak mungkin di sia-siakan. Ini momen berharga untuk mengenal kota ini lebih lagi," sambung dia.

Pada kesempatan itu, Walikota Tri Rismaharini mengawali penjelasannya dengan komitmen Surabaya menjadi kota jasa dan perdagangan yang mampu bersaing dengan kota-kota lain di dunia. Untuk merealisasikan visi itu, kata Risma -sapaan Tri Rismaharini-, pihaknya perlu membangun kualitas manusia terlebih dulu.

Caranya dengan berbagai fasilitasi di bidang pendidikan dan kesehatan. Dia melanjutkan, pendidikan dan kesehatan gratis dapat meringankan beban masyarakat. Dengan demikian, program peningkatan taraf hidup warga bisa lebih terfokus.

Skema itu ditunjang dengan penyediaan 978 perpustakaan dan taman baca di seluruh penjuru kota. Sementara di bidang teknologi informasi (TI), pemkot memberikan pelatihan komputer dan internet di broadband learning center (BLC) yang dapat dijumpai di fasilitas umum.

Tak ketinggalan, Risma juga menyinggung perihal upaya penanggulangan banjir, rencana pembangunan angkutan massal cepat (AMC), hingga pemanfaatan TI untuk menunjang manajemen pemerintahan dan perizinan online.

"Tidak bisa dipungkiri bahwa pemanfaatan TI memberikan banyak dampak positif. Salah satunya mengurangi terjadinya KKN karena semua terekam secara elektronik," papar mantan Kepala Bappeko Surabaya ini.

Pertemuan yang berlangsung selama kurang lebih 90 menit itu berlangsung dua arah. Satu per satu dubes mengajukan pertanyaan guna menggali lebih dalam informasi yang disampaikan Risma. Termasuk kemungkinan Surabaya menambah hubungan sister city dengan kota di Uni Eropa.

"Surabaya tergolong kota di Indonesia yang paling banyak menjalin sister city dengan kota-kota di Eropa," terang Risma.

Dia menyatakan, Surabaya membidik kota pelabuhan di Eropa, yakni Antwerp di Belgia. Sayang, hubungan kerjasama belum bisa terealisasi. "Kami berharap bisa kerjasama dengan Antwerp, tapi mungkin ada kebijakan lokal di sana yang belum memungkinkan terlaksananya kerjasama. Saya sendiri juga tidak tahu, itu kewenangan mereka," ujarnya.

Oleh karenanya, Risma berharap momen pertemuan ini bisa dimanfaatkan untuk menjalin hubungan kerjasama yang produktif dan saling menguntungkan.(Topan)