Ads (728x90)


Kondisi ini tidak terlepas dari pengaruh situs jejaring sosial yang kian marak beberapa tahun terakhir, dan bahkan menjadi gaya hidup. Misalnya, Anda tidak perlu berjalan ke toko untuk membeli barang keperluan Anda, karena dengan duduk santai sambil ngemil keripik kentang di atas sofa, barang yang Anda pesan di toko online sudah sampai ke tangan Anda.
Bahkan Anda tidak perlu datang ke rumah tetangga sebelah untuk bersilaturahmi karena bisa chatting-an dari kamar masing-masing. Ini adalah fenomena yang cukup ironis, karena kemudahan bersosial media di internet justru membuat orang malas beraktivitas, yang pada akhirnya bisa membuat orang tersebut mengalami kelebihan berat badan dan sakit-sakitan.
Sebuah penelusuran yang dilakukan salah satu media nasional menunjukkan, bahwa di instagram, hashtag atau tanda pagar #food menempati peringkat ke-25 dalam daftar TOP 100 TAGS. Posisi ini berada jauh di atas hashtag #fitness yang berada di urutan ke-87.
Ironisnya lagi, di antara sesama hashtag yang berhubungan dengan makanan pun, tampak adanya kecenderungan menampilkan makanan tidak sehat. Hashtag makanan berkalori tinggi cenderung lebih populer dibandingkan hashtag tentang makanan berserat yang lebih sehat.
Sebut saja hashtag #foodgasm, disebut dalam 6,1 juta posting. Hashtag #cake disebut dalam 20,5 juta posting, sedangkan hasthtag #chocolate disebut dalam 19,1 juta posting. Bandingkan dengan hashtag tentang makanan sehat, semisal #salad yang hanya disebut dalam 5,5 juta posting, seperti dikutip detikhealth.
So, apakah kelebihan berat badan yang Anda alami saat ini berhubungan dengan 'keintiman' Anda menggunakan internet? Anda sendiri yang tahu jawabannya.