Ads (728x90)


Mengapa mereka begitu betahnya menjadi Anggota Parlemen di Indonesia? Itulah pertanyaan saat ini yang menganggu otak saya.

Politik itu bagi saya adalah hari ini berteriak besok lupa, lalu saat dia tahu dan nyaman maka pragmatis pemikiran orang politik itu dan ini hampir semua partai politik (parpol) dan politisi mengalami ini.

Mari kita tengok kisah lainnya betapa saat orde baru adalah sangat enak jika ingin ajdi anggota dewan itu bisa semuanya, anak, istri, adik, ipar pasti bisa duduk dengan santai di kursi empuk senayan. Kini mendekati hal yang sama bedanya mereka harus melakukan kampanye dan penyaringan awal di partai-partai, yang seolah menyeleksi, namun jika yang lama ingin maju tak boleh yang baru mengeser dulu.

Kita bisa menyimak kisah anak-anak Bung Karno mendirikan parpol misalnya Sukmawati dengan PNI Marhaenisme atau Rahmawati dengan Partai Pelopor.

Kedua parpol itu tidak berhasil menarik simpati Soekarnois, maka begitu juga Yenny, yang sejak awal tampak berseberangan dengan Gus Dur di mana dia masuk sebagai staf khusus Presiden SBY di saat PKB pimpinan Gus Dur akan direbut Cak Imin. Kini Yenny saking tidak tahannya ingin berpolitik dalam, maka gabung dengan Partai Demokrat

Politik pragmatis menjadi pilihan politisi dan kutu loncat. Meski kurang terpuji, mereka memilihnya hanya sekadar biar selamat. Gagal loloskan parpol, bergabung dengan parpol pesaing. Atau cara-cara apapun ditempuh demi mendapatkan keuntungan pribadi.

Loyalis Soeharto terbukti tidak membantu parpol yang didirikan Tommy Soeharto (Partai Republik) atau Tutut Soeharto (Partai Peduli Rakyat Nasional). Parpol tradisional seperti Partai Golkar, PDIP, PPP diuntungkan karena infrastruktur yang sudah dibangun sejak keruntuhan Orde Lama, tambahnya.
Ciri khas politik pragmatis semakin buruk dengan mahalnya biaya untuk jadi caleg saja minimal harus merogoh kocek 500 juta itu untuk kelas DPRD, jika ingin ke Senayan para caleg harus siap dengan 1 Miliar dan ini jelas akhirnya kartel caleg yang berkuasa di saat semua bersuara soal pembatasan masa jabatan presiden, tapi jadi caleg bisa selamanya.

Ibarat sebuah mimpi banyak yang ingin jadi anggota parlemen jika kuat di menang, jika tak kuat kalahlah dan nunggu 5 tahun lagi. Kini Demokrasi Indonesia lahirkan potret tirani yang sangat bertentangan dengan demokrasi, yang mestinya jika dalam tatanan sikap elegan hendaknya regenerasi politik harus menurunkan generasi baru, tapi coba saja tengok, sejumlah menteri yang takut kehilangan jabatannya kelak masih mendaftara Caleg, belum tokoh-tokoh bandotan yang lama sejak Orba di parlemen, masih terdaftar di caleg, terutama paratai-parta lama.

Akhirnya saya katakan kenapa masih ingin jadi anggota parlemen? Apakah mereka belum puas? Atau memang nyaman dalam dunianya yang sangat santai bisa tidur saat paripurna, namun dibayar?