Ads (728x90)


Masihkah Anda berlangganan koran? Dari beberapa teman saya yang menjawab pertanyaan ini, dapat disimpulkan bahwa koran tampaknya tak lagi menjadi prioritas. Umumnya mereka menghentikan langganan sejak tiga atau empat tahun lalu. Bahkan ada teman saya yang tak lagi mengeluarkan biaya berlangganan koran sejak 10 tahun lalu. Beragam alasan menjadi pendorong mereka berhenti berlangganan.

Namun benang merahnya tetap sama. Dimana faktor biaya ternyata bukan alasan utama. Keputusan menghentikan langganan koran adalah hal yang simple dan realistis. Misalnya, meski tak berlangganan mereka masih bisa membaca koran di kantor. Mereka pun bisa mengalokasikan budget koran untuk media cetak lain seperti majalah atau tabloid yang lebih bersifat timeless atau collectible item yang sesuai dengan gaya hidup, hobi atau menunjang profesi. Lebih dari itu, kebiasaan membaca berita di koran kini sudah mulai tergantikan oleh smartphone dan tablet. Kehadiran berita yang dikemas dalam versi mobile, membuat berita benar-benar dalam genggaman.

Dengan demikian, apakah membaca media cetak kini sudah terasa kuno? Pernyataan itu mungkin terlalu tendensius. Namun jika kita menengok saja riset yang dilakukan Voice of America (VOA) pada 2012 tentang peta persaingan radio, televisi dan media lain di Nusantara sesungguhnya tidak terlalu mengejutkan.

Riset itu menunjukan, sebanyak 87 % penduduk Indonesia masih menggunakan TV untuk mendapatkan berita. Namun kelompok masyarakat yang mulai terbiasa memanfaatkan new media (instant messenger, online news, blog, social media, forum, SMS) jumlahnya sudah mencapai 36%. Sisanya 11% memperoleh informasi dari radio, dan hanya 7% yang masih menggunakan koran atau majalah untuk mengakses berita. Ini menunjukkan, media-media tradisional, khususnya radio dan media cetak kini hanya menjadi pelengkap dari euphoria yang tengah terjadi.

Tak berlebihan jika media online semakin diminati. Faktanya media-media online telah mampu menawarkan tiga unsur utama dalam menyajikan berita. Yakni selain cepat, berita dikemas menarik dan dibarengi dengan kredibilitas yang tinggi. Ketiga faktor ini membuat masyarakat kini semakin meninggalkan media cetak sebagai sumber utama dalam mengkonsumsi berita.

Perubahan kebiasan khususnya dalam mengakses new media juga sejalan dengan populasi pengguna internet di Indonesia yang semakin melonjak. Survei Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia (APJII) mengungkapkan bahwa jumlah pengguna internet di Indonesia pada 2013 mencapai 63 juta orang atau 24,23 %dari total populasi.  Angka itu diprediksi naik sekitar 30% menjadi 82 juta pengguna dan terus tumbuh menjadi 107 juta pada 2014, dan 139 juta atau 50 persen total populasi pada 2015.

Riset APJII juga menemukan fakta menarik, yakni sebanyak 65% pengguna internet Indonesia lebih sering terkoneksi dengan internet melalui telepon seluler (ponsel). Harga yang terjangkau dan biaya akses yang semakin ekonomis membuat featured phone yang sebelumnya mendominasi, kini telah bergeser ke smartphone dan tablet yang semakin menjadi pilihan konsumen. Hal itu menunjukan, gaya hidup mobile (mobile life style) tak lagi sekedar menjadi jargon.

Jika melongok ke belakang, perkembangan media online sebenarnya telah dimulai sejak era reformasi 1998. Kini pertumbuhan media massa berbasis online yang lebih real time, menemukan momentumnya saat populasi ponsel pintar terus melonjak dan operator menerapkan tarif internet yang semakin terjangkau.

Tak berlebihan jika media online sekarang sudah menjadi jawara industri media massa.  Karenanya, demi memenangkan persaingan, sejak 2005 semakin banyak surat kabar yang juga memiliki juga media online. Tentu saja persaingan membuat industri media online pun semakin dinamis. Selain memperebutkan kue iklan yang terus menanjak, mereka juga terus berusaha memperbesar readers base.

Nah, dengan semakin tingginya minat masyarakat dalam mengakses media digital, menjadi pertanyaan besar akankah media-media cetak di Indonesia akan bernasib sama dengan kompatriot mereka di luar negeri yang sudah bertumbangan. Ada yang memprediksi, masa keemasan media cetak di Indonesia hanya tinggal menunggu waktu. Kira-kira 15 – 20 tahun lagi, katanya. Anda setuju?