Ads (728x90)


Malang - Kuota calon mahasiswa baru yang diterima melalui jalur Seleksi Nasional Masuk Perguruan Tinggi Negeri (SNMPTN) atau jalur undangan di Universitas Brawijaya Malang, Jawa Timur, menduduki rekor terbanyak se-Indonesia, yakni mencapai 6.506 orang. 

Menurut Kepala Humas Universitas Brawijaya (UB) Malang Susantinah Rahayu, Rabu, mengatakan calon mahasiswa baru sebanyak 6.506 orang itu disaring dari pendaftar yang mencapai 56 ribu siswa yang tersebar di sekitar seribu SMA di Tanah Air.

"Calon mahasiswa yang diterima melalui jalur SNMPTN ini hanya dari siswa yang menjatuhkan pilihannya ke UB sebagai pilihan pertama, yakni mencapai 37 ribu siswa. Sedangkan siswa yang menjadikan UB sebagai pilihan kedua tidak diseleksi lagi alias diabaikan," tegas Susantinah yang akrab dipanggil Santi tersebut.

Menurut Santi, kuota calon mahasiswa baru dari jalur SNMPTN tersebut merupakan 50 persen dari jumlah keseluruhan kuota calon mahasiswa baru sekitar 12 ribu. Sementara 30 persen dari jalur Seleksi Bersama Masuk Perguruan Tinggi Negeri (SBMPTN) atau jalur tulis dan 20 persen dari jalur mandiri.

Bagi calon mahasiswa baru yang diterima melalui jalur SNMPTN, lanjutnya, wajib hadir saat pendaftaraan ulang pada 17 Juni 2014. Jika tidak hadir mereka akan gugur dan sekolah mereka akan terkena sanksi di SNMPTN tahun berikutnya.

Sementara itu Rektor UB Prof Dr Yogi Sugito mengakui UB tidak hanya menolak puluhan ribuan siswa untuk bisa kuliah di kampus itu, tapi juga menolak ribuan sekolah yang mendaftarkan siswanya ke UB karena kuota sudah terlampau penuh. Dari 4.000 sekolah yang mendaftar, hanya sekitar seribu sekolah yang bisa ditampung. 

Menurut Yogi, dalam SMPTN tahun ini aturan yang digunakan UB sama seperti tahun lalu. Selain nilai sekolah, UB juga hanya mengambil pendaftar yang memilih UB sebagai pilihan pertama dengan alasan jumlah pendaftar pertama sudah melampui kuota.

"Sebelum menyeleksi siswa yang menjadikan UB sebagai pilihan kedua, pilihan pertama sudah melampaui jumlah pendaftar, yakni mencapai 37 ribu pendaftar, padahal yang kita terima hanya sekitar 6.500 siwswa," ujarnya. (*)

Sumber : Antara