Ads (728x90)

Beberapa waktu belakangan masih banyak daerah mengalami kemarau berkepanjangan. Tentu saja yang namanya kemarau identik dengan cuaca dan suhu panas yang menyengat. Sama saja dengan suhu perpolitikan di negeri tercinta ini.

Manuver demi manuver para politisi negeri ini seolah dirinya sedang berada di dataran pasir nan tandus tanpa air, kering kerontang, dan siap mati demi seteguk pelepas dahaga. Haus dan lapar, itulah yang rakyat saksikan dalam adegan pertunjukkan wayang berjudul "Kemarau Politik di Negeri Pendusta".

Uniknya sang dalang dalam kisah judul pewayangan tersebut merasa paling panas diantara para wayangnya. Mengherankan, tapi itulah fakta. Celakanya, uniknya, anehnya, lucunya entah mengapa dalam kisah itu justru sang dalang berupaya dijadikan wayang oleh para wayang???

Tapi di sudut ruangan, tepatnya di pojokan ada sosok penggincu yang turut menyaksikan pagelaran wayang. Ia hanya tersenyum tipis dan tampak menggelikan sekali. Dalam hati kecilnya : "Kagak rugi gua beli tiket tontonan ini". Lalu siapa sesungguhnya 'penggincu' yang ikut berbaur menyaksikan wayang konyol tersebut?

Dikisahkan dalam judul pewayangan itu, salah satu wayang yang ketahuan doyan makan sapi mengatakan, sesungguhnya penggincu itu adalah salah satu senjata pamungkas para wayang untuk membuat dalang tak berdaya...hemmm benarkah?